Cerbung: When Love Is Not Enough (The End)
Ada cerita yang menarik perhatian gw...
Dapet dari milis tetangga...
Tapi sayangnya gw ga tau sapa yang nulis..
But for who ever wrote it, it's nice story, I like it...
Mudah2an menyentuh siapa pun yang membacanya =)
Dapet dari milis tetangga...
Tapi sayangnya gw ga tau sapa yang nulis..
But for who ever wrote it, it's nice story, I like it...
Mudah2an menyentuh siapa pun yang membacanya =)
When Love is Not Enough (The End)
"Stanley? Jadi ia tahu semua permainanmu ini?" kekecewaan terbersit dalam hatiku.
"Kamu tahu Ca.. Kalau aku mau memiliki Jason, aku bisa mendapatkannya dari dulu, bahkan sebelum ia bertemu denganmu.. Aku tidak perlu menunggu saat seperti ini.."
Ia tak memperdulikan pertanyaanku..
Ia membalikannya tubuhnya, menatap ke luar.
Gerimis tampak menyirami kota Jakarta.
"Tapi aku tidak pernah melakukannya karena aku tahu aku tidak pantas memilikinya setelah apa yang aku lakukan padanya..
Bahkan setelah pertunangan itu dibatalkan sekalipun."
"Apa yang terjadi waktu itu?"
"Tunanganku menghubungiku. Ia mengatakan, ia tidak bisa menikahiku karena ia
mencintai perempuan lain.. Aku marah sekali. Bukan marah karena perempuan lain itu tapi karena ia memberitahuku di saat aku telah meninggalkan dan menyakiti Jason.. Aku tidak pernah mencintai tunanganku.. Melihatnya pun aku belum pernah.. Aku melakukan semua itu dulu semata-mata karena orang tuaku yang pernah berhutang budi kepada orang tuanya. Seperti cerita Siti Nurbaya ya?" ia tertawa sinis.
"Semenjak itu, aku hanya bisa menyesal. Bertemu dengan Jason pun rasanya aku
sudah tidak punya muka. Lalu aku dengar cerita tentangmu.. Sejujurnya, aku iri setengah mati sewaktu tahu Jason melamarmu. Aku ingin menghancurkan hubungan kalian.."
"Jadi kamu yang mengatur agar Jason mendengar lagi kabar tentangmu?" tanyaku
geram.
Ia mengangguk.
"Awalnya aku puas.. Aku berhasil membuat Jason teringat akan diriku, membuat keyakinannya goyah.. Namun aku salah.. Ia malah semakin menyadari cintanya sewaktu ia kehilanganmu.. Aku kalah.." suaranya terdengar parau.
"Lalu bagaimana kamu bisa datang ke San Fransisko dan bertemu denganku?
Apakah ada hubungannya dengan Stanley?" tanyaku cepat.
Entah kenapa, aku lebih ingin tahu tentang hubungan Stanley dengan semua hal ini ketimbang masalah Jason..
Ia menggeleng.
"Awalnya itu kebetulan.. Tampaknya kita memang berjodoh, Bianca.. Kita memang harus bertemu.. Kalau tidak, aku tidak akan pernah merasa setenang ini melepaskan Jason.."
"Kapan Stanley tahu tentang ini?"
"Malam ketika ia menjemputku untuk makan di rumahmu."
Aku menghampiri Sarah.
Berdiri di sampingnya, kami berdua sama-sama menatap ke luar.
"Saat itu aku baru merasa pasti bahwa kamu adalah Bianca yang dicintai Jason. Ketika mengetahuinya, aku rasanya ingin menghilang saat itu juga. Aku tidak ingin bertemu denganmu. Cemburu, marah, sedih dan perasaan bersalah semuanya bercampur aduk.." ia mendesah.
"Lalu?"
"Lalu Stanley mengucapkan sesuatu yang merubah semuanya.."
"Apa itu?"
"Mencintai seseorang tidaklah cukup.."
Ia berhenti sebentar, memainkan gelasnya lalu meneguk minumannya lagi.
"Cintaku takkan pernah membahagiakan Jason.. Justru dengan membantunya menjadi bahagia, aku bisa buktikan cintaku padanya, sekalipun ia tidak pernah tahu.." suaranya mulai bergetar.
"Karena aku begitu mencintainya.. Hati ini terlalu sakit.. Maafkan aku Bianca.. Aku tadinya berjanji pada diriku untuk memberi kalian berdua senyum restuku tapi aku rasa aku tak akan bisa.. Tapi percayalah.. aku rela.." ia mengusap air mata dari pelupuk matanya.
Aku bisa melihat cintanya yang tulus..
Penderitaan yang mengalir bersama air matanya..
Kesedihan seorang perempuan yang tidak bisa bersama pria yang ia cintai karena sesuatu yang bukan kesalahannya..
Kesedihan seorang perempuan yang rela menyerahkan orang ia cintai demi kebahagiaan orang tersebut..
Kesedihan seorang perempuan yang selama ini hidup dalam penyesalan, bahkan sampai saat ini sekalipun..
Mampukah aku mencintai Jason seperti Sarah mencintainya?
Mampukah aku melepaskan Jason di depan mataku sendiri seperti yang ia lakukan?
Mungkin benar, mencintai seseorang tidaklah cukup..
"Stanley benar.. Ia yakin kamu akan bangkit dan memperjuangkan kembali cintamu.. Itu juga sebabnya ia mencintaimu, karena keberanian dan kesetiaanmu.. walaupun justru itu yang membuatnya menderita.." ucapan Sarah
kali ini benar-benar seperti sambaran petir di tengah-tengah bunyi hujan yang terdengar samar-samar.
"Apa katamu?" tanyaku seolah tak percaya akan apa yang baru saja kudengar..
"Kamu tidak sadar selama ini Stanley mencintaimu?" Sarah menatapku tidak
mengerti.
"Ia sendiri yang mengatakannya kepadamu?"
"Tanpa kata-kata pun aku tahu ia mencintaimu.. Pengorbanannya, meskipun senyap, bagiku lebih jelas daripada bunyi guntur sekalipun.."
Sarah menunggu komentar dariku namun bibirku tetap terkunci rapat.
"Ia yang mebuatku yakin bahwa aku bisa melewati semuanya.. Melihatnya tersenyum dan matanya berbinar ketika membayangkan dirimu bisa berbahagia
dengan Jason terlihat begitu tulus.. Tapi aku tahu, hatinya pasti sakit.. Lebih sakit dariku.. Karena pengorbanannya jauh lebih banyak.. Karena sedikitpun ia tidak pernah merasakan cintamu.. Karena ia harus terlihat lebih tegar darimu sementara penderitannya jauh lebih berat darimu.. Karena ia tidak bisa menceritakannya kepada siapapun.. Karena.."
"Hentikan.. kumohon.. hentikan.." Aku berbalik memunggunginya.
Aku menutup mulutku, menahan isakan tangis yang sebentar lagi akan meluap..
Air mataku mulai mengalir..
Stanley.. Mengapa selama ini aku tidak menyadarinya?
Ia mencintaiku..
Semua kata-kata hiburannya, semua senyumnya, semua dukungannya..
Semuanya ia berikan dengan penderitaannya sendiri sebagai gantinya..
Dan aku?
Sedikitpun tidak pernah memperdulikan perasaannya..
Sedikitpun tidak pernah kuhargai semua itu..
Aku telah buta.. buta karena pikiranku hanya terpusat kepada Jason seorang.
Aku menutup diriku..
Aku tidak menyadari ada seseorang yang lebih berarti yang telah dihadirkan Tuhan untukku..
Sekarang ia di mana?
Aku harus mencarinya.
Aku mengangkat kepalaku, bersiap melangkah mencari Stanley.
Namun sosok yang berdiri di depanku menghentikan niatku.
Jason.. Ia berdiri.
Terpaku menatap kehadiranku dan Sarah.
Aku menatapnya, sama kagetnya..
Namun matanya tidak hanya menatapku seorang..
Aku melirik ke arah Sarah.
Ia berdiri diam, aku melihat ia memasang wajah kerasnya lagi, seolah tidak terpengaruh oleh kehadiran Jason di hadapan matanya.
Namun aku tahu, tubuhnya sedikit gemetar..
"Sarah? Bianca? Bagaimana kalian bisa di sini?" Jason mendekati kami, menatap kami bergantian dengan padangan kebingungan yang tidak bisa diungkapkan.
Bagiku ucapan Jason sudah menunjukkan siapa yang sebenarnya ia nanti.
Dugaan Stanley dan Sarah salah..
Aku yang benar.. Ia masih mencintai Sarah..
Aku tahu tatapan matanya.. Aku tahu ke mana ia sebenarnya ingin melangkahkan kakinya..
"Pergilah Ca.. Jangan sia-siakan pengorbananku dan Stanley.. Aku mohon.. cepatlah pergi sebelum aku menangis.." bisik Sarah lirih..
Aku tak menjawab ataupun beranjak dari tempatku..
Dalam keheningan yang sesaat itu, aku membuat suatu keputusan dalam hatiku..
Aku meraih tangan Sarah, menariknya dan memaksanya berjalan mendekati Jason.
Ketika Jason sudah tepat berada di depanku, aku meraih tangan pria itu.
Sekilas aku teringat sentuhan-sentuhan kami dulu..
Buru-buru aku hilangkan bayangan konyol itu.
Lalu aku menaruh tangan Sarah dalam genggaman tangan pria itu..
"Jason.. Tampaknya percintaan kita dulu benar-benar adalah suatu kesalahan.. Yang benar-benar kamu cintai adalah perempuan ini.. Ia juga mencintaimu.. Selama ini ia hidup dalam kesedihan yang tidak pernah kamu tahu.. Ia berhak
untuk kau cintai.."
Aku menggerakkan tanganku ke leher belakangku, melepaskan kalung yang sudah
tiga tahun ini menemaniku.
Di kalung itu tergantung cincin pertunangan yang selama ini aku simpan, yang selama ini mengikat dan menahan hidupku..
"Aku kembalikan ini.. Sebagai tanda bahwa semua ini benar-benar berakhir.."
Aku menyelipkan kalung itu di sela-sela tangan Sarah dan Jason.
Lalu aku melangkah pergi.
"Bianca!" panggil Jason.. Aku berhenti dan menengok ke arahnya.
Ketika melihat kedua mata itu, ingin rasanya aku berlari
kembali..memeluknya.. dan menciumnya dengan segenap kekuatan yang aku masih miliki..
"Aku tak mengerti apa yang terjadi.. Namun.. Terima kasih.." ucapnya tulus.
Sejujurnya aku tidak mengharapkan ia mengucapkan kata-kata itu.
"Aku berterima kasih karena kamu memudahkanku untuk memilih antara dirimu
dan dirinya.. Tapi kau harus tahu, kamu benar-benar ada dalam hatiku, bahkan
sampai sekarang.. Aku tak akan menahanmu kali ini.. Aku tahu kamu telah
menemukan seseorang yang lebih baik dari diriku.. Seseorang yang cintanya
tak pernah terbagi.." sambungnya.
Aku tersenyum dan mengangguk pelan.
Aku menatapnya dalam-dalam, seolah-olah aku tidak akan menatapnya dengan tatapan yang sama lagi..
Kenangan-kenangan kami bergantian terlintas dalam benakku, begitu jelas.. Perkenalan kami..
Pertunangan itu..
Dan perpisahan yang seharusnya mengakhiri semuanya, namun yang aku takut untuk akhiri..
"Terima kasih karena telah mengenalkanku pada cinta.." sahutku pelan.
Jason menatapku dengan tatapan yang hanya kami berdua yang mengerti.
Kami sama-sama tahu, kenangan antara kami biarlah tersimpan dengan baik di tempat yang terbaik.. Karena kami sama-sama belajar dari situ..
"Bianca.." kini Sarah memanggilku
"Kenapa?" tanyanya dengan mata berkaca-kaca.
Aku memalingkan tatapanku kepada perempuan itu, meyakinkan diriku bahwa
menyerahkan Jason kepadanya adalah tindakan yang benar..
"Kamu yang mengatakan alasannya padaku tadi.. Terima kasih untuk membuka mataku..Aku harap kalian bahagia.."
Aku tersenyum sekali lagi kepada mereka berdua lalu aku membalikkan tubuhku.
Aku sama sekali tidak menangis.
Sebaliknya, aku merasa ada suatu beban yang lepas dari diriku..
Aku merasa seperti dilahirkan kembali..
Bebas dari kekangan dan bayang-bayang masa lalu..
Dan aku merasa bangga karena aku telah membuat diriku begitu berarti bagi seseorang yang pernah aku cintai dengan setiap tetes darah ini..
Dan juga bagi perempuan yang mengajarkanku arti cinta yang sebenarnya.
Setelah memberi selamat kepada Rosa dan suaminya, aku mengelilingi ruangan
pesta ini untuk mencari Stanley.
Aneh, batang hidungnya tidak kelihatan padahal ia selalu bisa menemukanku sekalipun kami terpisah..
Semakin aku mencarinya, semakin aku takut kehilangannya.
Dan aku semakin menyadari betapa aku membutuhkannya..
Ketika sampai di rumah, aku buru-buru naik ke kamar Stanley.
Kamarnya kosong..
Panik, aku langsung mencari mama untuk menanyakan tentang hal ini..
"Apa? Ia sudah kembali ke San Fransisko?" tanyaku tidak percaya mendengar
jawaban mama.
"Jam berapa pesawatnya?"
"Jam sembilan.."
Aku melihat jam tanganku.. Terlambat..
Seandainya aku kembali lebih cepat dari pesta itu mungkin aku masih bisa mengejarnya..
Tapi bagaimana mungkin aku pulang sebelum meyakinkan diriku bahwa ia benar-benar sudah tidak ada di pesta tersebut?
"Kalau begitu aku harus cek, flight ke San Fransisko berikutnya jam berapa.." gumamku
"Apa maksudmu? Kamu mau kembali ke sana?" Kini aku mendengar papaku angkat bicara.
"Iya pa.. Aku harus menjelaskan semuanya kepadanya.."
Lalu aku menceritakan semuanya kepada papa mama.
"Lalu.. kamu yakin kamu mencintainya? Tampaknya kamu masih mencintai Jason.." tanya papa setelah mendengar ceritaku.
"Pa.. Cinta tidaklah cukup.. Cinta bisa pudar setiap saat.. Tapi aku, aku benar-benar butuh Stanley dan itu tidak akan berubah untuk selamanya.. Aku rasa, itu lebih kuat daripada cinta sekalipun.."
Papa dan mama terdiam.
"Jadi kamu akan kembali ke San Fransisko dan meninggalkan kami lagi?" tanya papa lagi.
"Aku belum tahu pa.. Tapi aku mohon.. Biarkan aku pergi.. Biarkan aku bahagia sekali lagi.. Aku tak mau melepaskan kesempatan ini.."
Mereka terdiam lagi.
"Biarkan ia pergi.."
Aku menatap mama tidak percaya.
Sungguh tidak disangka mama akan berbicara seperti itu.
"Kamu jangan sembarangan bicara.. Kamu tahu bagaimana jadinya kalau ia tidak
kembali?" Papa juga kaget mendengar ucapan mama barusan.
"Itu tandanya ia menemukan kebahagiaannya di sana.. Biarkanlah.. Bukankah kebahagiaan dia adalah yang terpenting bagi kita? Lagipula.. Aku percaya pada Stanley." Jawab mama.
Aku memandangnya terharu..
Sama sekali tidak ada penyesalan yang kurasakan sewaktu aku menginjakkan
kakiku lagi di kota ini..
Rasanya baru kemarin aku mengucapkan selamat tinggal dan bersedih karena aku akan merindukan setiap pelosok dari kota ini..
Ternyata aku kembali lagi..
Bahkan lebih cepat daripada yang aku duga..
Tidak sabar, aku segera mencari Stanley.
Ketika aku sampai di rumahnya, ia tidak ada di sana..
Setengah panik dan tidak sabar, aku pergi ke café tempat kami biasa mampir untuk ketemuan saat break jam kantor..
Ia juga tidak di sana..
Putus asa, kuputar otakku, mencoba mengira-ngira di mana gerangan ia berada..
Karena tak kutemukan juga jawabannya, aku memutuskan untuk mendinginkan dulu kepalaku.
Mungkin aku terlalu panik dan tergesa-gesa sehingga tidak bisa berpikir dengan baik.
Kalau hatiku sedang kacau seperti saat ini, aku akan pergi ke pantai.
Melihat lautan air tanpa batas seperti memberiku kekuatan untuk melanjutkan
hidupku dan yakin bahwa hidupku masih terbentang luas..
Jadi saat ini, pantai adalah satu-satunya tempat yang terlintas di benakku..
Matahari bersinar terik. Aku melepaskan sepatuku dan menjinjingnya.
Aku suka merasakan pasir-pasir lembut ini masuk ke sela-sela jariku..
Merasakan kakiku tertimbun olehnya..
Begitu nyaman, serasa berbaur dengan alam..
Deburan ombak tedengar seperti musik yang seirama dengan langkah kakiku..
Aroma yang kurasakan juga begitu menenangkan..
Entah kapan terakhir kalinya aku merasakan kedamaian seperti ini..
Tersirat dalam benakku, seandainya pun aku tak akan pernah bertemu dengan Stanley lagi, aku tak akan menyesal telah kembali ke kota ini..
Ketika aku sedang menikmati kedamaian ini, aku menangkap sosok dirinya..
Dia yang dari tadi aku cari..
Ia tengah berdiri menatap ke arah laut dengan tangan dimasukkan ke kedua
saku celananya.
Aku berlari.. sekuat yang aku mampu..
Tak ada suara keluar dari mulutku..
Aku tak sanggup lagi..
Aku hanya ingin meraihnya dan tak melepaskannya lagi..
Itu saja..
Ia terkejut sewaktu aku memelukanya dari belakang.
Ia menoleh ke belakang sedikit.
"Bianca?" tanyanya tak percaya.
"Aku mencarimu ke mana-mana.. Bagaimana kamu bisa ada di sini?"
"Karena ada seseorang mengatakan padaku dulu, apabila aku merasa kacau, aku
harus pergi ke pantai dan aku akan tenang.. Aku selalu tertawa mendengarnya.
Lalu aku katakan padanya, dia memiliku.. Ia tidak perlu ke pantai.. Namun ternyata ia benar, terkadang ada saatnya kita perlu sendiri di saat kita
sedih.."
Aku tersenyum mendengarnya.
"Kenapa kamu tidak mencari orang itu saat kamu sedih? Bukankah orang itu juga selalu ada di sampingmu ketika kamu membutuhkannya?"
"Karena aku tidak mau mengganggu kebahagiannya.."
Aku melepaskan pelukanku.
"Tidak tahukah kamu bahwa ia akan sedih kalau ia mendengarnya?"
Ia berbalik menatapku.
"Mengapa?"
Aku membalas tatapannya.
Aku rasa, aku tak pernah menatapnya dengan perasaan seperti ini sebelumnya.. Ada yang berbeda.
"Karena baginya, hal yang paling membahagiakan adalah membuatmu tersenyum
saat kau sedih..Sama seperti yang selalu kamu lakukan baginya.." jawabku..
kupandangi dalam-dalam kedua matanya..
Ia memalingkan pandangannya seolah pandanganku menusuknya.
"Lupakanlah.. Ia sudah berbahagia dengan orang yang lebih tepat.. Bagianku hanya sampai di sini.."
Ia melangkahkan kakinya, beranjak meninggalkanku.
"Stanley.." panggilku lirih.. "Aku kembali untukmu.."
Ia menghentikan langkahnya.
"Bagaimana dengan Jason?" ia tetap tidak melihat ke arahku.
"Aku membiarkannya bersama dengan perempuan yang lebih mencintainya.."
"Bukankah kamu mencintainya melebihi apapun juga? Jangan bohong Bianca, aku
melihatnya sendiri.."
Aku berjalan ke arahnya lalu berdiri tepat di hadapannya. "Itu salahmu.."
Ia menatapku tak mengerti.
"Kamu yang membuatku mencintainya.. Kamu yang mendorongku untuk selalu
mengingatnya.. Kamu yang menyebabkanku terobsesi olehnya.. Karena kamu, aku tidak pernah menyadari bahwa yang aku butuhkan adalah kamu.. bukan dia.."
kata-kata itu keluar begitu saja dari bibirku..
Kami sama-sama terdiam.
Aku menunggu ia mengucapkan sesuatu namun tidak ada satu kata pun keluar dari bibirnya.
Setelah menunggu cukup lama, ia memelukku.
Kali ini, jantungku berdebar.
Ini bukan lagi pelukan persahabatan..
Aku bisa merasakan cinta..
Kubalas pelukannya..
"Jangan pergi lagi Stan.." bisikku.
Ia membelai rambutku lembut.
"Tidak akan Ca.. Aku akan mencintaimu sampai air di pantai ini mengering.."
Malamnya, aku dan Stanley merayakan kebersamaan kami..
Kali ini bukan sebagai sahabat tapi sebagai sepasang kekasih..
Sama seperti dulu, ia yang masak sementara aku hanya merapikan meja makan.
Ketika kami hendak mulai makan, ia memutar sebuah lagu seperti biasa.
"Ca, aku sering mendengar lagu ini sewaktu aku bingung tentang hubungan kita, sewaktu aku bingung akan diriku sendiri.. Dulu aku ingin sekali memutarnya sewaktu kita makan bersama namun aku terlalu takut kamu akan tahu perasaanku maka aku selalu mengurungkan niatku.. Sekarang, aku ingin kamu
dengar lagu ini.."
2 a.m. and the rain is falling
Here we are at the crossroads once again
You're telling me you're so confused
You can't make up your mind
Is this meant to be
You're asking me
But only love can say - try again or walk away
But I believe for you and me
The sun will shine one day
So I'll just play my part
And pray you'll have a change of heart
But I can't make you see it through
That's something only love can do
In your arms as the dawn is breaking
Face to face and a thousand miles apart
I've tried my best to make you see
There's hope beyond the pain
If we give enough, if we learn to trust
I know if I could find the words
To touch you deep inside
You'd give our dream just one more chance
Don't let this be our last good-bye
Aku tidak bisa mengucapkan apa-apa.
Bibirku tersenyum namun mataku basah..
Entah kapan terakhir kalinya aku merasa seperti ini..
Mungkin dulu, ketika aku bersama dengan Jason..
Tidak pernah aku menyangka akan merasakan perasaan ini lagi.
Ia meraih tanganku dan mengecupnya lembut.
"Welcome to my life, Bianca Fransesca Prananto.."
Kami berpelukan lagi.
Lama sekali, seolah ingin menebus waktu yang terbuang sia-sia selama ini.. Waktu yang sebenarnya bisa kami gunakan untuk berbagi cinta namun malah kami gunakan untuk sama-sama menyakiti diri kami.
Tampaknya, aku tidak hanya sekedar membutuhkannya..
Aku telah jatuh cinta..
Walau aku tidak pernah menyadarinya sampai detik aku hampir kehilangan dirinya..
Kata orang, cinta yang sejati adalah ketika itu tumbuh perlahan..
Cinta yang tidak hanya beralaskan nafsu..
Cinta yang muncul karena kebersamaan..
Jadi kurasa, aku telah menemukan cinta sejatiku..
Ketika kau merasa bahwa cinta saja tidaklah cukup, korbanlah cinta itu sendiri.. Maka kau akan mendapat sesuatu yang lebih berharga..
Kebahagiaan...
-The End-
0 Comments:
Post a Comment
<< Home