Wednesday, May 04, 2005

Cerbung: When Love Is Not Enough (Part I)

Ada cerita yang menarik perhatian gw...
Dapet dari milis tetangga...
Tapi sayangnya gw ga tau sapa yang nulis..
But for who ever wrote it, it's nice story, I like it...
Mudah2an menyentuh siapa pun yang membacanya =)

When Love is Not Enough (Part I)

Handphone-ku bergetar.
Dengan enggan kubaca nama penelponnya. Private number..
Setelah beberapa saat aku menimang-nimang, akhirnya kuputuskan untuk mengangkat telpon itu.

"Hallo." sapaku.
"Hallo Ca, ini Rosa."
"Rosa?" ucapku agak terkejut.
"Sudah terima undangannya?" tanya Rosa agak terburu-buru. Suasana hiruk pikuk disekitarnya terdengar samar-samar.
"Undangan?" Buru-buru aku berjalan ke arah meja ruang tamu, menahan rasa pusing yang langsung muncul ketika aku bangun dari tempat tidur, langsung mencari-cari undangan yang disebut oleh Rosa. Ternyata house-mateku menaruhnya di bawah tumpukan koran.

"Iya, aku post beberapa hari yang lalu. Harusnya sudah sampai tadi pagi."
"Oh, iya.. ada nih.. Undangan siapa sih ini?" kubuka undangan itu dan terkesiap melihat nama pengantin perempuannya.
"Rosa! Kamu mau married? Kenapa nggak pernah cerita di email? Ngagetin banget.." aku masih belum pulih dari keterkejutanku. Kulihat nama pengantin prianya, memang pria yang Rosa pacari dua tahun terakhir ini.

Rosa tertawa senang mendengar keterkejutanku.
"Ca, itu undangan belum disebar loh.. Aku kasih kamu duluan sekalian bikin kejutan supaya kamu orang luar pertama yang tahu.." ucapnya senang.
"Ya ampun Sa.. Kamu hampir bikin aku jantungan, tau nggak?" ucapku tanpa bisa menyembunyikan kesenangan yang juga aku rasakan saat itu.
"Ca, aku lagi buru-buru nih.. Nanti aku kirim e-mail lagi yah.." Lalu Rosa mengakhiri percakapan singkat kami.

Aku merebahkan diriku di atas sofa. Kupandangi lagi undangan yang masih kupegang.
Rosa.. berapa umurnya sekarang? 23? Waktu memang cepat sekali berlalu..
Aku sendiri sudah 27 tahun.. Sudah bisa kutebak reaksi mama kalau
tahu tentang hal ini nanti.
Pernikahan Rosa memang alasan yang tepat untuk
menyuruhku cepat-cepat cari pacar dan menikah.
Aku tahu maksud baik mama..
tapi entah mengapa hati ini masih tidak bisa untuk menerima cinta yang lain.
Hati ini seolah-olah masih diikat olehnya, oleh pria yang selalu ada di
setiap sudut benakku, yang berada nun jauh di sana..

Umurku kira-kira sama
dengan Rosa waktu papa mama mengenalkanku dengannya.
Aku sedang kuliah tahun
terakhir saat itu. Ia sedang liburan di Jakarta, dan orang tuanya yang merupakan teman baik orang tuaku membawanya ke rumah kami.
Aku masih ingat
kesan pertama yang kudapat sewaktu melihatnya. Tampan namun angkuh.

"Bianca, kenalan sini sama Jason." Aku baru saja pulang dari kampus waktu mama memanggilku.
Aku duduk di sebelah mama dan mengulurkan tanganku kepada
laki-laki yang dimaksud mama itu.

"Bianca" ucapku singkat. "Jason" ia membalas uluran tanganku singkat lalu melepaskannya lagi.
"Bianca, Jason ini lagi liburan dari Sydney. Kuliah kamu
kan juga sebentar lagi libur, bisa kan kamu temenin Jason kalau dia mau jalan-jalan?" Aku menatap mama heran karena permintaan mama terdengar janggal sekali.

"Ok" jawabku singkat, malas memperpanjang percakapan di depan orang yang tidak kukenal.
"Jason, kamu catet donk nomor telponnya Bianca.." mama Jason tiba-tiba angkat bicara.
Aku baru ingat bahwa aku belum berkenalan dengan dua orang
lagi yang duduk di sebelah Jason.
Buru-buru aku berdiri dan menyalami
mereka.
"Kayaknya kita yang tua-tua ngobrol di belakang aja yuk.." papa lalu
membawa orang tua Jason ke taman belakang, meninggalkanku dan Jason berduaan.
Sejujurnya aku merasa canggung sekali karena aku memang bukan
orang yang mudah bergaul.

"Bianca.." panggilannya membuatku sedikit terkejut.
"Ya?" Ia lalu
melambai-lambaikan handphone-nya.
"Nomormu?" tanyanya singkat seraya
memberikan benda itu kepadaku.
"Oh.." jawabku gugup. Kusimpan nomor
handphone-ku di memori buku telponnya.

"Kamu miss call ke handphone kamu aja supaya kamu juga punya nomorku" ucapnya sewaktu aku hendak mengembalikan handphone-nya.
"Oh.." ucapku lagi.
Aku benar-benar merasa bodoh sekali. Malu mungkin lebih tepat.

Lalu kudengar tawanya meledak. Aku menatapnya heran.
"Untung mama kamu dah
bilang kalau kamu anaknya pendiam dan pemalu.." ucapnya sambil mengacak-acak rambutnya sendiri yang kecoklatan.

Aku dapat merasakan pipiku memerah saat itu.
Anaknya ternyata cukup menyenangkan, tidak angkuh seperti yang aku bayangkan.
Kami ngobrol cukup lama. Walaupun aku agak kaku pada awalnya, ia
berhasil membuat suasana lebih santai dengan cerita-cerita konyolnya.

Jason Tjiputra. Ia besar di Sydney dan jarang pulang ke Jakarta.
Ia sudah
menyelesaikan kuliahnya dan sedang mencoba mencari pekerjaan.
Papanya
sebenarnya menginginkan ia membantu usaha keluarga mereka namun ia bersikeras ingin mencari pengalaman dulu di sana.
Sementara ia menunggu
lamarannya diterima, ia pulang kembali ke tanah air.

Dimulai dengan telpon-telponan tiap malam dan sesekali pergi bersama keluarganya, kami mulai jadi dekat. Sekali waktu, Ia bahkan nekat menjemputku di kampus.
Sesuatu yang membuat geger anak-anak di kampusku.

Kejadian itu masih segar dalam ingatanku, karena pada hari yang sama itulah, sesuatu merubah hidupku.
Ia bersandar ke mobil mewahnya dengan gayanya yang
angkuh.
Tangannya dimasukkan ke saku celananya dan dari balik kacamata
hitamnya, matanya seperti sibuk mencari-cari sesuatu.
Aku hampir tidak
percaya ketika melihatnya di lapangan parkir kampus sore itu.
Buru-buru aku
menghampirinya.

"Jason? Ngapain di sini?" sapaku sambil tertawa kecil, menyembunyikan rasa grogiku.
"Ca, aku mau ajak kamu jalan." Ucapnya dengan senyum lebar
tersungging di bibir merahnya.
Aku terkesiap mendengarnya. Ini pertama
kalinya dia mengajakku pergi berdua saja.
Aku melirik ke mobilnya,
mecari-cari supirnya. "Supirnya mana?" tanyaku polos.

"Aku yang nyetir donk!" ucapnya bangga.
"Hah? Nggak mau ah.. Kamu kan nggak
bisa nyetir di sini.." sahutku pura-pura panik.
"Jangan takut, aku dah latihan dari kemaren.." ia lalu
berjalan melewatiku dan membukakan pintu mobil untukku.
"Silahkan masuk,
tuan putri."
Aku bisa merasakan tatapan-tatapan yang tertuju padaku saat
itu.

Bagaimana tidak, sore itu lapangan parkir sedang ramai-ramainya dan tiba-tiba saja ia datang dengan semua keglamourannya. Ditambah lagi statusku yang memang kurang mengenakkan di kampus ini.
Merasa tidak enak, aku memilih
untuk buru-buru masuk ke mobil sebelum mereka menganggap aku sedang pamer
cowok.

(bersambung...)


0 Comments:

Post a Comment

<< Home