Wednesday, May 11, 2005

Cerbung: When Love Is Not Enough (Part II)

Ada cerita yang menarik perhatian gw...
Dapet dari milis tetangga...
Tapi sayangnya gw ga tau sapa yang nulis..
But for who ever wrote it, it's nice story, I like it...
Mudah2an menyentuh siapa pun yang membacanya =)

When Love is Not Enough (Part II)

"Kok diem aja Ca?" tanya Jason sedikit tidak enak.
"Lain kali nggak usah
jemput aku.." jawabku pelan.
"Kenapa sih memangnya? Nggak enak ama anak-anak
di kampus? Biarin aja ah.." sahut Jason cuek.
Ia sibuk mencari-cari lagu
yang bagus dari CD changernya.

"Nanti aku diomongin yang macem-macem.."

"Diomongin apa sih?" tanyanya, kali ini agak lebih serius.
"Yah.. apa kek gitu.. Kamu kan tahu bagaimana sikap mereka sama aku.. Mereka tuh nggak suka sama aku.." jawabku, agak sedikit sedih mengingat-ingat celaan apa saja yang pernah ditujukan kepadaku..

"Mereka cuma sirik sama kamu.. Udah pinter, kaya, cakep lagi.. Plus dijemput ama cowok keren begini.. Kayaknya emang mereka bakalan makin sebel sama kamu sih.." Tanpa kusadari, aku tersenyum sendiri mendengar ucapannya.
Entah kenapa, Jason bisa membuatku merasa dihargai dan berarti meskipun ia tidak pernah mengatakannya secara langsung.

Jason adalah orang pertama yang bisa membuatku merasa bahagia seperti ini.
Sejak kecil, sikapku yang tertutup dan pemalu membuat orang-orang berpikir bahwa aku ini sombong.
Bahkan sebelum mengenalku pun, mereka sudah memasang tatapan tidak suka ketika melihatku. Penampilanku juga sebenarnya biasa saja tapi selalu ada yang dikritik oleh mereka.
Sok pamer lah, sok cakep lah, atau sok sopan.
Seraya bertambah dewasa, orang-orang mulai selalu menguhubungkanku dengan orang tuaku yang terkenal. Nilai-nilaiku yang bagus karena hasil kepintaranku sendiri juga selalu diragukan.
Sikap dosen yang menghormatiku dikatakan semata-mata hanya karena ingin menjilat.

Aku tidak pernah benar-benar punya teman.
Yang selalu menemaiku hanyalah gunjingan dari mereka yang tidak menyukaiku.
Aku tidak pernah mengerti alasannya..

Sore itu Jason mengajakku ke mall. Ia memintaku menemaninya berbelanja.
"Ca, sini sebentar.." Jason masuk ke salah satu butik pakaian perempuan.
"Ngapain sih? Kamu mau beli baju buat mama kamu juga?" aku hanya mengikutinya dari belakang.
Ia lalu mengambil sebuah gaun malam, menyodorkannya kepadaku.
"Cobain yang ini.."Aku menatapnya heran. "Udahh.. ayo cepetan.." ia mendorongku ke kamar ganti.
"Jason, ini nggak cocok buat aku.."aku mengamati gaun biru muda dengan sulaman bunga bertebaran di bagian bawahnya.
Memang manis sekali.. Jason hanya memberiku isyarat untuk diam dan segera mencoba gaun itu.
Setengah hati, aku menurutinya.

"Pas sekali.." ia berdecak kagum ketika melihatku mengenakan gaun itu.
"Saya ambil yang itu ya.." ia lalu berkata kepada pramuniaga yang berdiri di sampingnya.
Jason memaksa membelikanku gaun itu.
Sebagai tanda terima kasihnya karena aku telah menemainya berbelanja sore itu.
Alasan yang aneh menurutku..

Kami lalu makan malam di salah satu restoran dan berbincang-bincang sambil menunggu pesanan kami datang.
Percapakan yang tidak pernah aku lupakan..

"Kapan kamu balik ke Sydney?" tanyaku membuka percakapan kami.
"Kenapa? Udah bosen nemenin aku ya?"
"Eh.. bukan begitu lah.. Cuma mau tau aja.." Jason menyenderkan tubuhnya ke kursi dan menghela napasnya. "Sekitar satu atau dua minggu lagi..".
"Oh.." hanya itu yang keluar dari mulutku.

Ia lalu memajukan tubuhnya, mendekatkan dirinya.
"Kalau aku pergi, kamu kesepian?" ia tersenyum nakal.
Aku sungguh tidak bisa menjawab apa-apa.
Bibirku seperti terkunci dan aku hanya bisa menunduk.
Aku juga tidak mengerti mengapa aku jadi seperti itu.
Sungguh memalukan..

"Ca, kamu suka cowok kayak apa sih?" tanyanya mengalihkan topik, namun pertanyaannya masih membuat jantungku berdetak kencang.
"Aku? Uhmm.. Aku suka.." aku berpikir sebentar. "Aku suka cowok yang mau menantiku selama seribu tahun lamanya.." jawabku akhirnya dengan mantap.
Ia menatapku heran. "Aku tidak pernah dengar jawaban seperti itu sebelumnya.."
"Memangnya sudah berapa orang yang kamu tanya seperti itu?" tanyaku memberanikan diri.
Ia tertawa ringan. Ia tidak menjawab apa-apa.

"Kalau kamu? Kamu suka yang seperti apa?" tanyaku balik.
"Aku?" ia diam sebentar. "Aku suka cewek yang bisa membuatku jatuh cinta padanya.." sambungnya.
"Jawabanmu lebih aneh lagi.." aku tertawa kecil, merasa agak sedikit lepas dari kegugupanku.
Jason mengangkat bahunya cuek.
"Ca, kamu lebih cantik kalau kamu panjangin rambutmu.." ucapnya tiba-tiba.
Kini aku yang terdiam.
"Kenapa kamu belum punya pacar?" tanyanya kemudian. "Aku yakin banyak cowok ngantri untuk jadi pacarmu.."
"Aku belum menemukan yang pas.." jawabku diplomatis.
"Pernah jatuh cinta?" tanyanya lagi, menyudutkanku.
"Rahasia.." jawabku malu-malu, mengaduk-aduk minuman yang baru diantar.
Walaupun kepalaku tertunduk, aku tahu ia sedang menatapku.
Sejujurnya, saat itu aku sadar bahwa aku sudah mulai jatuh cinta kepadanya..
Jatuh cinta untuk pertama kalinya..

Sesampainya di depan rumahku, aku sudah hendak membuka pintu mobil sewaktu ia menarik tanganku, mencegahku untuk keluar.
"Ada apa?" tanyaku antara bingung dan juga malu karena aku juga menikmati sentuhan tangannya.
Ia menatapku sesaat.. beberapa detik yang terasa begitu lama untukku.
"Nggak pa-pa.. Maaf.." ia melepaskan tanganku pelan. "Good night, sweet dream.." senyumnya.
Aneh.. aku agak sedikit kecewa saat itu.
Aku hanya bisa membalas senyumannya dan beranjak keluar.

Lalu aku melihat mobil ayah Jason diparkir di dalam garasi rumahku.
"Jas, itu bukannya mobil papamu?" tanyaku agak sedikit terkejut.
Jason menatap ke arah yang kutunjuk dan ternyata ia juga sama herannya dengan aku.

'Kamu turun aja dulu.."akhirnya kuberanikan diriku.
Jason hanya mengangguk-angguk dan mematikan mesin mobilnya...


(bersambung...)

0 Comments:

Post a Comment

<< Home