Cerbung: When Love Is Not Enough (Part IV)
Ada cerita yang menarik perhatian gw...
Dapet dari milis tetangga...
Tapi sayangnya gw ga tau sapa yang nulis..
But for who ever wrote it, it's nice story, I like it...
Mudah2an menyentuh siapa pun yang membacanya =)
Dapet dari milis tetangga...
Tapi sayangnya gw ga tau sapa yang nulis..
But for who ever wrote it, it's nice story, I like it...
Mudah2an menyentuh siapa pun yang membacanya =)
When Love is Not Enough (Part IV)
Rosa adalah adik Jason yang juga tinggal di Sydney.
Aku hanya pernah melihat fotonya di foto keluarga yang dipajang di rumah mereka.
Rosa adalah satu-satunya saudara yang dimiliki Jason.
Setidaknya itu masih lebih baik dariku yang hanya sendirian.
Jason terdiam sebentar. "Aku kan sudah pernah bilang alasannya.."
"Tapi itu sebelum kamu bertemu dengan Bianca kan?"
"Prinsipku tidak bisa diubah.." dari nada bicaranya tersirat Jason tidak ingin melanjutkan percakapan itu.
Rosa menghela napasnya dan menatapku.
"Ca, kamu harus awasin bener-bener kakakku ini.. Hati-hati, cewek yang ngejar dia ada segudang.." candanya.
"Harusnya aku yang minta tolong kamu, Sa.. Kan kamu yang bisa ngawasin dia nanti.." balasku sambil tertawa kecil.
Rosa lalu melirik ke arah Jason. "I'll try my best.. We'll see.."
Entah mengapa aku merasa ada yang ganjil dengan ucapan Rosa tapi aku tidak terlalu memperhatikannya. Pikiranku sendiri berkecamuk dengan pertunanganku besok.
"Ca.." Jason membuyarkan lamunanku. "Mikirin besok yah?" sambungnya lembut.
Aku mengangguk. Rosa memegang tanganku dan menggenggamnya erat.
"Everything will be fine.. Relax.."
Jason mengangguk setuju dengan perkataan adiknya.
Lalu tiba-tiba kulihat Jason memberikan isyarat kepada seseorang, menyuruhnya untuk datang ke meja kami.
Aku berpaling melihat siapa orang tersebut.
Ternyata seorang pemain biola. Ia menghampiri kami dan mulai memainkan sebuah lagu.
Lagu yang sangat indah, sebuah lagu klasik yang begitu akrab di telingaku, Moonlight Sonata..
Jason tahu aku suka memainkan lagu itu dengan piano kesayanganku..
Wajahku langsung bersemu merah, benar-benar kikuk rasanya berada dalam keadaan seperti itu.
Aku mencari-cari Rosa, berupaya untuk tidak menatap Jason..
Namun tampaknya Rosa sengaja menghilang saat itu, membiarkan diriku hanya berduaan dengan Jason.
Aku melihat orang-orang di sekeliling restoran itu menatap ke arahku sambil tersenyum.
Aku menunduk lagi sebelum akhirnya memutuskan untuk menoleh ke arah Jason.
Ia memang sedang menungguku menatapnya.
Ia tersenyum simpul, sedikit terlihat menahan tawa melihat sikapku yang malu-malu itu..
Ia lalu mengulurkan tangannya, mengajakku berdansa. Aku menatapnya terkejut.
Aku ingin menolak namun aku tahu berpasang-pasang mata sedang memperhatikan kami saat itu.
Akhirnya aku sambut uluran tangannya dan kami beranjak ke lantai dansa.
Musik masih terus mengalun, samar-samar menutupi bunyi detak jantungku.
Ia mendekap tubuhku erat, tubuh kamipun bersatu, bergerak perlahan.. terbawa suasana..
Beberapa pasangan juga mulai turun dan mulai berdansa.
Aku tersenyum, merasa agak sedikit rileks. Aku menopangkan daguku di bahunya.
Kudengar ia berbisik pelan, "Terima kasih.." lalu ia mencium telingaku lembut.
Hanya dua kata yang singkat namun membuatku merasa begitu dihargai, begitu dipuja..
dan di atas segalanya, begitu dicintai..
Aku merenggangkan pelukanku. Kuberanikan diriku untuk menatapnya.
Lalu kaki kami sama-sama terhenti.
Kami berdua berdiri mematung di tengah-tengah pasangan-pasangan lain yang sedang berdansa.
Kami berdua bertatapan cukup lama saat itu.
Melihat tatapan matanya yang begitu dalam dan hangat, aku yakin aku adalah gadis yang paling beruntung di dunia ini.
Aku percaya, keputusanku untuk menerima pertunangan ini tak akan pernah kusesali.
Pesta pertunangan kami berjalan dengan lancar.
Sejujurnya, tidak ada yang terlalu istimewa di hari itu kecuali perasaanku.
Bahagia dan terharu mungkin tidak cukup untuk mendeskripsikannya.
Jason selalu berada di sampingku sepanjang acara itu.
Ia senantiasa menggenggam erat tanganku atau sesekali merangkul pinggangku.
Kudengar tamu-tamu memuji kami sebagai pasangan yang sempurna.
Jason juga terus menerus memujiku yang terlihat agak berbeda malam itu.
Sedih rasanya waktu pesta itu berakhir dan membayangkan Jason akan segera meninggalkanku.
Namun cincin yang kini terselip di jari manisku mampu membuat hatiku agak lebih cerah.
Malam itu, Jason mencium bibirkuku untuk yang pertama kalinya..
Ciuman yang lembut..
Tepat seperti yang aku impikan, ciuman pertama yang membuatku menangis sebaliknya dari tersenyum..
Jason memang memenuhi semua anganku..
Ia terlalu sempurna sehinggal aku merasa semua ini hanya mimpi.
Ketika Jason harus pergi dari sisiku, aku melepas kepergiannya dengan tabah.
Aku tahu tangisanku tidak akan merubah keputusannya.
Sebaliknya, aku tersenyum karena aku tahu ia akan kembali ke sisiku.
Mungkin perpisahan sementara ini adalah yang terbaik bagi kami berdua.
Mungkin dengan begitu, cinta yang murni bisa berkembang di antara kami.
Apabila kami bisa melewati semua ini, maka tidak ada lagi yang bisa memisahkan kami nantinya.
"Aku nggak nyangka kamu tidak nangis.." Jason tersenyum meledekku.
Ia sudah hendak check in namun ia minta waktu untuk bicara berdua saja denganku.
Aku menangis di sini.." aku menunjuk hatiku. Kurasakan suaraku bergetar saat mengucapkannya.
Jason menarik tubuhku mendekat kepadanya.
Ia lalu sedikit membungkuk dan menempelkan keningnya di keningku.
Matanya menatapku begitu dalam seolah ingin melihat apa yang ada di balik bola mataku.
"Terima kasih.. Seandainya kamu menangis, hatiku juga jadi susah.." Ia lalu mengecup keningku.
"Aku pasti kembali lagi.. Jaga cinta kita.." Dan ia memelukku begitu erat.
Kugigit bibirku kuat-kuat untuk menahan air mata yang sudah di pelupuk mataku.
"Sudah.. ayo check in sana.. Rosa udah nungguin.. Nanti langsung telpon aku yah.."
kulepas pelukannya dan kucoba mengucapkan kata perpisahan dengan nada ceria..
Ia tersenyum dan mengangguk pasti. Ia lalu berjalan ke arah Rosa dan mereka berdua melambaikan tangan padaku.
Ketika mereka berdua berlalu dari pandanganku, air mataku tumpah..
Aku hanya pernah melihat fotonya di foto keluarga yang dipajang di rumah mereka.
Rosa adalah satu-satunya saudara yang dimiliki Jason.
Setidaknya itu masih lebih baik dariku yang hanya sendirian.
Sejujurnya, aku sangat mengharapkan memiliki seorang saudara perempuan dan aku berharap Rosa bisa menerimaku.
Ketika bertemu dengan Rosa di airport, ia ternyata jauh lebih cantik dari yang di foto.
Tepat seperti yang kubayangkan, anaknya lincah dan enerjik,membuat suasana di sekitarnya selalu meriah. Sebentar saja aku sudah akrabdengan Rosa.
Banyak kecocokan di antara kami walaupun dia lebih kecil sekitar empat tahun dariku.
"Wahhh. kalian deg-degan nggak nih besok sudah mau tunangan?" goda Rosa saat kami makan malam bertiga.
Sebenarnya Rosa ingin aku melewatkan malam tersebut hanya berduaan dengan kakaknya namun aku yang memaksanya untuk ikut.
"Bukan deg-degan tapi sedih, Sa.." jawabku.
"Sedih?" tanya Jason kaget, membuatku dan Rosa tersenyum geli.
"Gimana nggak sedih? Mana ada orang yang baru tunangan dua hari langsungditinggal?" sahut Rosa seperti bisa membaca pikiranku.
"Ohh.. aku ke Sydney kan bukan buat selamanya.."
"Kenapa sih kamu nggak batalin tawaran kerja di Sydney dan kerja sama papa aja?" aku agak sedikit terkejut dengan pertanyaan Rosa yang agak blak-blakan walaupun pertanyaan itu pernah juga terlintas dalam pikiranku.Ketika bertemu dengan Rosa di airport, ia ternyata jauh lebih cantik dari yang di foto.
Tepat seperti yang kubayangkan, anaknya lincah dan enerjik,membuat suasana di sekitarnya selalu meriah. Sebentar saja aku sudah akrabdengan Rosa.
Banyak kecocokan di antara kami walaupun dia lebih kecil sekitar empat tahun dariku.
"Wahhh. kalian deg-degan nggak nih besok sudah mau tunangan?" goda Rosa saat kami makan malam bertiga.
Sebenarnya Rosa ingin aku melewatkan malam tersebut hanya berduaan dengan kakaknya namun aku yang memaksanya untuk ikut.
"Bukan deg-degan tapi sedih, Sa.." jawabku.
"Sedih?" tanya Jason kaget, membuatku dan Rosa tersenyum geli.
"Gimana nggak sedih? Mana ada orang yang baru tunangan dua hari langsungditinggal?" sahut Rosa seperti bisa membaca pikiranku.
"Ohh.. aku ke Sydney kan bukan buat selamanya.."
Jason terdiam sebentar. "Aku kan sudah pernah bilang alasannya.."
"Tapi itu sebelum kamu bertemu dengan Bianca kan?"
"Prinsipku tidak bisa diubah.." dari nada bicaranya tersirat Jason tidak ingin melanjutkan percakapan itu.
Rosa menghela napasnya dan menatapku.
"Ca, kamu harus awasin bener-bener kakakku ini.. Hati-hati, cewek yang ngejar dia ada segudang.." candanya.
"Harusnya aku yang minta tolong kamu, Sa.. Kan kamu yang bisa ngawasin dia nanti.." balasku sambil tertawa kecil.
Rosa lalu melirik ke arah Jason. "I'll try my best.. We'll see.."
Entah mengapa aku merasa ada yang ganjil dengan ucapan Rosa tapi aku tidak terlalu memperhatikannya. Pikiranku sendiri berkecamuk dengan pertunanganku besok.
"Ca.." Jason membuyarkan lamunanku. "Mikirin besok yah?" sambungnya lembut.
Aku mengangguk. Rosa memegang tanganku dan menggenggamnya erat.
"Everything will be fine.. Relax.."
Jason mengangguk setuju dengan perkataan adiknya.
Lalu tiba-tiba kulihat Jason memberikan isyarat kepada seseorang, menyuruhnya untuk datang ke meja kami.
Aku berpaling melihat siapa orang tersebut.
Ternyata seorang pemain biola. Ia menghampiri kami dan mulai memainkan sebuah lagu.
Lagu yang sangat indah, sebuah lagu klasik yang begitu akrab di telingaku, Moonlight Sonata..
Jason tahu aku suka memainkan lagu itu dengan piano kesayanganku..
Wajahku langsung bersemu merah, benar-benar kikuk rasanya berada dalam keadaan seperti itu.
Aku mencari-cari Rosa, berupaya untuk tidak menatap Jason..
Namun tampaknya Rosa sengaja menghilang saat itu, membiarkan diriku hanya berduaan dengan Jason.
Aku melihat orang-orang di sekeliling restoran itu menatap ke arahku sambil tersenyum.
Aku menunduk lagi sebelum akhirnya memutuskan untuk menoleh ke arah Jason.
Ia memang sedang menungguku menatapnya.
Ia tersenyum simpul, sedikit terlihat menahan tawa melihat sikapku yang malu-malu itu..
Ia lalu mengulurkan tangannya, mengajakku berdansa. Aku menatapnya terkejut.
Aku ingin menolak namun aku tahu berpasang-pasang mata sedang memperhatikan kami saat itu.
Akhirnya aku sambut uluran tangannya dan kami beranjak ke lantai dansa.
Musik masih terus mengalun, samar-samar menutupi bunyi detak jantungku.
Ia mendekap tubuhku erat, tubuh kamipun bersatu, bergerak perlahan.. terbawa suasana..
Beberapa pasangan juga mulai turun dan mulai berdansa.
Aku tersenyum, merasa agak sedikit rileks. Aku menopangkan daguku di bahunya.
Kudengar ia berbisik pelan, "Terima kasih.." lalu ia mencium telingaku lembut.
Hanya dua kata yang singkat namun membuatku merasa begitu dihargai, begitu dipuja..
dan di atas segalanya, begitu dicintai..
Aku merenggangkan pelukanku. Kuberanikan diriku untuk menatapnya.
Lalu kaki kami sama-sama terhenti.
Kami berdua berdiri mematung di tengah-tengah pasangan-pasangan lain yang sedang berdansa.
Kami berdua bertatapan cukup lama saat itu.
Melihat tatapan matanya yang begitu dalam dan hangat, aku yakin aku adalah gadis yang paling beruntung di dunia ini.
Aku percaya, keputusanku untuk menerima pertunangan ini tak akan pernah kusesali.
Pesta pertunangan kami berjalan dengan lancar.
Sejujurnya, tidak ada yang terlalu istimewa di hari itu kecuali perasaanku.
Bahagia dan terharu mungkin tidak cukup untuk mendeskripsikannya.
Jason selalu berada di sampingku sepanjang acara itu.
Ia senantiasa menggenggam erat tanganku atau sesekali merangkul pinggangku.
Kudengar tamu-tamu memuji kami sebagai pasangan yang sempurna.
Jason juga terus menerus memujiku yang terlihat agak berbeda malam itu.
Sedih rasanya waktu pesta itu berakhir dan membayangkan Jason akan segera meninggalkanku.
Namun cincin yang kini terselip di jari manisku mampu membuat hatiku agak lebih cerah.
Malam itu, Jason mencium bibirkuku untuk yang pertama kalinya..
Ciuman yang lembut..
Tepat seperti yang aku impikan, ciuman pertama yang membuatku menangis sebaliknya dari tersenyum..
Jason memang memenuhi semua anganku..
Ia terlalu sempurna sehinggal aku merasa semua ini hanya mimpi.
Ketika Jason harus pergi dari sisiku, aku melepas kepergiannya dengan tabah.
Aku tahu tangisanku tidak akan merubah keputusannya.
Sebaliknya, aku tersenyum karena aku tahu ia akan kembali ke sisiku.
Mungkin perpisahan sementara ini adalah yang terbaik bagi kami berdua.
Mungkin dengan begitu, cinta yang murni bisa berkembang di antara kami.
Apabila kami bisa melewati semua ini, maka tidak ada lagi yang bisa memisahkan kami nantinya.
"Aku nggak nyangka kamu tidak nangis.." Jason tersenyum meledekku.
Ia sudah hendak check in namun ia minta waktu untuk bicara berdua saja denganku.
Aku menangis di sini.." aku menunjuk hatiku. Kurasakan suaraku bergetar saat mengucapkannya.
Jason menarik tubuhku mendekat kepadanya.
Ia lalu sedikit membungkuk dan menempelkan keningnya di keningku.
Matanya menatapku begitu dalam seolah ingin melihat apa yang ada di balik bola mataku.
"Terima kasih.. Seandainya kamu menangis, hatiku juga jadi susah.." Ia lalu mengecup keningku.
"Aku pasti kembali lagi.. Jaga cinta kita.." Dan ia memelukku begitu erat.
Kugigit bibirku kuat-kuat untuk menahan air mata yang sudah di pelupuk mataku.
"Sudah.. ayo check in sana.. Rosa udah nungguin.. Nanti langsung telpon aku yah.."
kulepas pelukannya dan kucoba mengucapkan kata perpisahan dengan nada ceria..
Ia tersenyum dan mengangguk pasti. Ia lalu berjalan ke arah Rosa dan mereka berdua melambaikan tangan padaku.
Ketika mereka berdua berlalu dari pandanganku, air mataku tumpah..
(...bersambung...)
1 Comments:
panjang banget ceritanya ya...
Post a Comment
<< Home