Cerbung: When Love Is Not Enough (Part III)
Ada cerita yang menarik perhatian gw...
Dapet dari milis tetangga...
Tapi sayangnya gw ga tau sapa yang nulis..
But for who ever wrote it, it's nice story, I like it...
Mudah2an menyentuh siapa pun yang membacanya =)
Dapet dari milis tetangga...
Tapi sayangnya gw ga tau sapa yang nulis..
But for who ever wrote it, it's nice story, I like it...
Mudah2an menyentuh siapa pun yang membacanya =)
When Love is Not Enough (Part III)
Waktu kami masuk, ternyata orang tua Jason memang sedang bertamu ke rumahku.
Aku langsung duduk di sebelah papa sementara Jason duduk sendiri terpisah.
"Abis ke mana aja kalian?" tanya mama lembut.
"Tadi Bianca nemenin Jason belanja doank kok ma.." jawabku sambil mencuri pandang ke arah Jason.
Ternyata ia sedang menatapku juga.
Buru-buru aku mengalihkan pandanganku.
"Papa mama kok bisa kebetulan di sini juga?" kudengar Jason angkat bicara.
"Kami memang mau ngomong sama kalian berdua.." jawab ayahnya dengan suara agak berat.
Jarang sekali aku mendengarnya berbicara.
Kulihat ia melirik ke arah istrinya, seolah meminta istri melanjutkan kata-katanya.
"Begini Jason.. kami lihat kalian berdua sangat cocok sekali.." Jantungku berdegup menunggu kata-katanya selanjutnya.
Lagi-lagi aku tundukkan wajahku.
"Jadi kami berpikir mungkin akan sangat baik kalau kalian dijodohkan..Setidaknya bertunangan dulu sebelum kamu kembali ke Sydney.. Mama dan papa sudah kenal dekat dengan orang tua Bianca. Kamu juga sudah cukup umur untuk memulai hubungan yang serius.."
Aku merasa ini seperti mimpi, atau seperti kisah dalam novel..
Aku baru saja jatuh cinta, untuk yang pertama kalinya.. dan langsung dijodohkan..
Segalanya yang kudengar seperti tidak nyata.
Sekuat tenaga kutahan diriku untuk tidak bersorak kegirangan.
Lalu aku memberanikan diri menatap ke arah Jason.
Tidak seperti yang kuduga, kulihat raut wajahnya berubah.
Tidak ada tanda-tanda kebahagiaan di sana..
Wajah itu menjadi keras dan angkuh, tepat seperti waktu aku pertama kali melihatnya.
Hatiku seperti ditusuk melihat reaksinya..
Jason lalu berdiri dari duduknya.
"Aku minta waktu untuk berpikir.." ia pun beranjak pergi begitu saja.
Menoleh ke arahku pun tidak. Duniaku serasa gelap saat itu.
Aku tidak mau tahu apa yang terjadi.
Yang kuingat, aku berlari ke kemarku dan mengunci diriku di sana.
Semalaman itu aku menangis sendiri.. Ternyata Jason sama dengan yang lainnya..
Sudah tiga hari Jason tidak menghubungiku semenjak kejadian itu.
Aku juga tidak pernah mencoba menghubunginya ataupun menanyakan tentangnya kepada orang tuaku.
Mereka sendiri tampaknya juga kecewa dengan sikap Jason malam itu.
Sejujurnya, aku sudah merasa malu dan putus asa..
Aku berpikir ia mempunyai perasaan yang sama..
Kalau tidak, mengapa ia begitu baik padaku?
Mengapa ia selalu memberi perhatian lebih padaku?
Ah.. pertanyaan yang tidak ada ujungnya..
Lebih baik kupendam semuanya sendiri, bersama dengan air mata yang hampir kering ini..
Aku hampir tidak percaya ketika melihat nama Jason tertera di layar handphone-ku sore itu..
Aku ingin sekali menjawab telpon itu tapi ada sesuatu dalam diriku yang mencegahnya.
Kebimbangan terus berkecamuk dalam hatiku sampai akhirnya telpon itu terputus.
Kumaki diriku sendiri dan kusesali diriku karena tidak mengangkat telpon darinya.
Kupandangi layar handphoneku terus menerus, berharap ia akan menelponku lagi.
Ternyata harapanku membuahkan hasil. Tidak lama ia menelponku lagi.
Tanpa berpikir panjang, aku langsung mengangkatnya.
"Hallo.." ucapku pelan dan agak berhati-hati.
"Ca, pakai gaun biru yang kita beli sama-sama untuk Sabtu depan.."
"Apa??" tanyaku kebingungan, kaget dengan ucapan Jason yang tanpa basa-basi itu.
Kupikir ia akan meminta maaf tentang kejadian waktu itu.
"Sabtu depan kita tunangan.." kebingunganku sirna, diganti oleh rasa terkejut dan sedikit khawatir.
"Jas.. kayaknya kita perlu bicara lagi.. Kamu harus jelasin kenapa.."
"Aku mencintaimu." potongnya cepat sebelum aku menyelesaikan kalimatku.
Aku terdiam sesaat. Setelah itu, hanya isakan tangisku yang terdengar.
Ia juga diam seribu bahasa. Bibir kami sama-sama terkunci saat itu..
Tidak lama ia datang ke rumahku.
Sewaktu aku turun dari kamar, kulihat ia sedang duduk di ruang tamu menantiku.
Aku menatapnya dari belakang. Rasanya aku bisa mendengar detak jantungku sendiri saat itu. Pelan-pelan kuhampiri dia dan duduk di hadapannya dengan tatapan yang menghindar darinya.
Di luar dugaanku, ia menghampiriku, bersujud di dekat kakiku dan meraih tanganku.
"Sudikah kau bertunangan denganku, Bianca Fransesca Prananto?" ia mengecup tanganku lembut lalu menyelipkan sebuah cincin ke dalam genggaman tanganku.
Aku bisa merasakan air mataku kembali menetes dari mataku yang sembab.
Tapi kini seuntai senyuman menghiasi wajahku. Ia lalu bangkit dan memelukku.
"Maaf.." kudengar ia berbisik pelan.
Suasana sore itu begitu tenang dan damai.
Aku dan Jason baru saja pulang dari mengurus beberapa keperluan untuk pesta pertunangan kami.
Sebenarnya mama Jason sudah mengurus semuanya, lagipula tidak terlalu banyak yang diurus mengingat pesta ini hanya dihadiri oleh keluarga dan teman dekat saja.
Namun Jason bersikeras ingin ikut campur dalam segala persiapannya.
Hari ini sudah hari Senin. Lima hari lagi adalah hari pertunangan kami.
Terus terang, aku merasa ini semua berlangsung terlalu cepat.
"Kok ngelamun, Ca?" Jason menyentuh tanganku lembut sambil masih berkonsentrasi menyetir.
Aku mengalihkan pandanganku yang sedari tadi memandang ke luar jendela.
"Aku cuma merasa ini tidak nyata.. Semuanya terlalu cepat.. Maksudku, kita baru berkenalan belum sampai dua bulan tapi kita sudah akan bertunangan lima hari lagi.."
"Kita kan hanya bertunangan, belum menikah.. Pertunangan ini kan hanya sebagai tanda ikatan antara kita berdua mengingat aku harus kembali ke Sydney minggu depan.. Kita masih punya banyak waktu untuk saling mengenal.. Kita tokh tidak perlu buru-buru menikah kan? Atau jangan-jangan kamu dah nggak sabar ya?" pertanyaannya membuat pipiku bersemu merah. Aku kembali mengalihkan pandanganku ke luar jendela.
"Jas, kamu belum menjawab pertanyaanku dulu.." ucapku memberanikan diri.
"Pertanyaan yang mana, Ca?"
"Kenapa malam itu reaksimu seperti itu?" aku kembali mengungkit persoalan malam ketika ia secara tidak langsung menolak perjodohan kami.
Ia selalu menghindar setiap kali aku mencoba menanyakannya.
Jason menghela napasnya, seolah merasa bosan dengan pertanyaanku.
"Apa itu masih penting sekarang?"
"Masih.. Karena aku ingin tahu apa yang membuatmu ragu?" paksaku.
"Hmm.. entah lah.. Life is complicated.." jawabannya masih penuh teka-teki.
"Sudah lah.. Aku mohon, jangan bahas ini lagi.."
Aku tidak mengucapkan apa-apa lagi.
Tampaknya percuma saja..Lagipula memang tidak ada gunanya aku tahu, hal itu tidak akan mengubah apapun.
Jadi, kukesampingkan egoku dan membuang keingintahuan itu..
"Besok kita jemput Rosa, kamu nggak lupa kan?" Aku hanya mengangguk.
(... bersambung...)
0 Comments:
Post a Comment
<< Home