Cerbung: When Love Is Not Enough (Part V)
Ada cerita yang menarik perhatian gw...
Dapet dari milis tetangga...
Tapi sayangnya gw ga tau sapa yang nulis..
But for who ever wrote it, it's nice story, I like it...
Mudah2an menyentuh siapa pun yang membacanya =)
Dapet dari milis tetangga...
Tapi sayangnya gw ga tau sapa yang nulis..
But for who ever wrote it, it's nice story, I like it...
Mudah2an menyentuh siapa pun yang membacanya =)
When Love is Not Enough (Part IV)
Aku dan Rosa juga masih terus berhubungan. Sadar atau tidak, kami sudah jadi sahabat baik. Anehnya, kami tidak terlalu banyak membicarakan Jason. Baik aku maupun dia sama-sama tidak pernah menyinggungnya. Aku merasa agak sungkan, lagipula aku tidak mau Jason berpikir bahwa aku kurang mempercayainya. Kuliahku berjalan dengan lancar.
Aku tidak terlalu merasa tertekan. Entah mengapa, keberadaan Jason menambah kepercayaan diriku.
Aku jadi tidak terlalu minder dan berprasangka buruk terhadap orang-orang di sekitarku. Sungguh, aku banyak berubah. Aku lebih berani mencekati orang dan ternyata, tidak semuanya berpandangan negatif tentangku..
Kupikir, dulu aku hidup dalam ketakutanku sendiri..
Aku yang tidak bisa menerima diriku, bukan mereka..
Kini di kampus aku punya cukup banyak teman.
Aku sangat menyayangkan karena diriku berubah di saat-saat terakhir kuliahku.
Aku jadi tidak pernah benar-benar menikmati masa kuliah.
Kadang-kadang Jason kesal karena semenjak diriku mulai lebih terbuka, sudah ada beberapa teman laki-lakiku yang mencoba mendekatiku.
Kalau sudah begitu, katanya aku lebih baik jadi pendiam dan tertutup seperti dulu.
Namun aku tahu ia tidak pernah serius dengan ucapannya..
Jason juga cukup puas dengan pekerjaannya. Ia sudah beberapa kali dapat pujian dari atasannya dan menurutnya, sebentar lagi ia bisa naik jabatan.
Kalau sudah mendengarnya bercerita begitu seru, aku jadi takut sendiri kalau-kalau ia tidak akan kembali.
Di sisi lain, aku bangga karena tunanganku bukan laki-laki yang hanya bisa mengandalkan orang tua.
Seperti yang sudah dibilang Rosa dulu, banyak sekali gadis yang ngantri untuk mendapatkan Jason.
Bukannya cemburu, aku malah jadi geli sendiri mendengar cerita-cerita lucu tentang gadis-gadis itu.
Mulai dari yang mengiriminya foto sampai yang mengirimkannya lagu lewat radio tiap weekend.
Hubungan kami berjalan begitu lancar.. begitu sempurna.. Hingga tidak terasa aku sudah menyelesaikan kuliahku.
Semenjak kuliahku selesai, aku tidak melakukan banyak hal selain membantu papa sedikit-sedikit di perusahaannya.
Sebenarnya Jason akan pulang saat wisudaku nanti, ia sudah berjanji.. namun aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengannya karena wisudaku masih dua bulan lagi.
Saat kau merindukan seseorang, dua bulan bisa jadi seperti penantian tanpa batas.
Maka kuberanikan diriku untuk meminta ijin ke Sydney.
"Sudah tidak sabar mau ketemu calon suami yah?" ledek papa waktu aku mengutarakan niatku.
"Ah papa.. kayak nggak pernah pacaran aja.." ucapku manja.
"Papa nggak ada alasan melarangmu. Kamu pesan saja tiketnya.."
"Beneran pa?" ucapku girang.
"Kalau perlu pesan saja untuk dua bulan jadi kamu balik ke Jakarta-nya sama-sama dia." tambah mama lagi.
"Aduh, mama memang mama paling baik sedunia.." aku memeluk mama erat-erat.
"Oh ya, aku mau bkin surprise loh buat Jason dan Rosa jadi mama papa jangan sampe keceplosan yah.." tambahku lagi.
Papa dan mama hanya tertawa melihat sikapku yang kekanak-kanakan itu..
Kupandangi refleksi wajahku di cermin. Aku tersenyum puas melihat penampilanku.
Kusisir rambutku yang sudah tumbuh panjang sekarang.
Aku teringat Jason pernah bilang bahwa aku lebih cantik bila rambutku panjang.
Mungkin itulah alasannya mengapa aku tidak pernah memotong rambutku semenjak aku mendengar kata-katanya itu.
Aku tersenyum membayangkan dirinya melihatku sekarang.
Aku tersenyum membayangkan perjumpaan kami sebentar lagi, melihat ekspresi terkejut di wajah tampannya..
Kubayangkan juga hari-hari yang akan aku lewati dengannya, menyusuri tempat-tempat indah yang selama ini selalu ia ceritakan padaku..
Kurapihkan diriku lagi sebelum keluar dari kamar kecil itu.
Kulangkahkan kakiku dengan mantap.
"Sydney, say hi to me.." pekikku girang dalam hati.
Aku memandang bangunan tinggi yang menjulang dihadapanku.
Taksi yang mengantarku sudah berlalu dari tadi.
Kulihat lagi kertas bertuliskan alamat apartment Jason dan Rosa.
Memang benar ini yang aku cari.
Ketika aku sudah hendak menekan interkom apartment mereka, kulihat sepasang suami istri berjalan keluar dari pintu utama.
Lalu ide iseng muncul di benakku. Sebelum pintu itu tertutup, aku buru-buru menyelinap masuk..
"Kalau aku langsung muncul di depan pintunya tentu lebih mengejutkan lagi.." pikirku nakal. Kutekan tombol lift yang sesaat kemudian mengantarku ke lantai teratas dari bangunan tersebut.
Sewaktu aku mengetuk pintu itu, aku merasa jantungku yang justru terketuk.
Lama tak terdengar jawaban.
"Mungkin mereka masih tidur.."
aku melirik jam tanganku yang menunjukkan jam sembilan pagi lewat sedikit.
Hari ini hari minggu jadi wajar saja kalau mereka bangun agak siang.
Kucoba lagi mengetuk pintu itu, agak lebih keras kali ini..
Tak lama, Rosa membuka pintu itu, masih dengan pakaian tidur dan rambut yang agak berantakan. Matanya terbelalak ketika melihatku...
"Bianca!!" teriaknya tertahan. Aku tersenyum dan langsung memeluknya.
Lalu kulihat Jason muncul, hanya mengenakan celana boxer pendek.
Aku tersenyum dan hampir memanggilnya ketika aku sadar ia sedang merangkul seorang perempuan yang tidak pernah aku kenal.
Perempuan itu juga hanya mengenakan pakaian tidur seadanya.
Jason masih mengucek-ucek matanya.
"Siapa Sa? Kok bisa masuk sini?" tanyanya pada Rosa.
Sementara yang ditanya tidak berani menoleh ke belakang.
Tersentak, kulepaskan pelukanku.
Jason juga rupanya segera menyadari kehadiranku di situ dan buru-buru melepaskan rangkulannya. Terlambat..
Aku sudah melihatnya.. Belum sempat seseorang mengucapkan sepatah kata pun, aku langsung
berbalik dan berlari pergi, menekan-nekan tombol lift dengan tidak sabar.
"Bianca! Tunggu!" kudengar Jason berlari dan mengejarku.
Ia lalu mencengkeram lenganku keras, membuatku tak mampu berontak.
Aku berbalik menatapnya namun pandanganku kabur, tertutup oleh air mata yang sudah siap
mengalir.
Ia tidak mengucapkan apa-apa. Ia menarikku ke pelukannya dengan paksa.
Aku hanya bisa menangis seraya sesekali memukul bahunya yang bidang itu.
Perempuan itu beranjak mendekati kami. Ia berdiri di belakangku, tepat berhadapan dengan Jason.
"Ini pacarmu?" tanyanya sinis.
"Bukan." Jason menjawab mantap.
"Ia tunanganku.." Sambungnya seraya mempererat pelukannya seolah ingin melindungiku. Tangisku makin menjadi mendengar jawaban Jason itu.
Perempuan itu mendegus marah.
"Kalau begitu, kau dalam masalah besar sekarang.. Bagus, kau rasakanlah akibat dari perbuatanmu sendiri!" bentaknya setengah berteriak.
Lalu aku mendengar suara tamparan.
Aku menolehkan wajahku dan melihat Jason sedang memegang sebelah pipinya.
"Tamparan itu untukku. Dan ini untuk tunanganmu." Ia lalu menampar Jason lagi.
Kulihat mata perempuan itu menyala oleh api amarah namun aku tahu ia juga tengah menahan air mata yang sudah mulai membahasi matanya.
Aku tahu, ia sama sedihnya denganku. Hanya saja, ia sedikit lebih kuat dariku..
Perempuan itu lalu mengalihkan pandangannya kepadaku.
"Kurasa kau pun tahu, jahanam ini tidak pantas untukmu.." ucapnya sebelum berlalu.
Kulihat ia masuk ke dalam lift yang sudah terbuka sambil menenteng pakaian dan tasnya.
Ia sama sekali tidak menoleh lagi ke arah kami..
Aku tidak terlalu merasa tertekan. Entah mengapa, keberadaan Jason menambah kepercayaan diriku.
Aku jadi tidak terlalu minder dan berprasangka buruk terhadap orang-orang di sekitarku. Sungguh, aku banyak berubah. Aku lebih berani mencekati orang dan ternyata, tidak semuanya berpandangan negatif tentangku..
Kupikir, dulu aku hidup dalam ketakutanku sendiri..
Aku yang tidak bisa menerima diriku, bukan mereka..
Kini di kampus aku punya cukup banyak teman.
Aku sangat menyayangkan karena diriku berubah di saat-saat terakhir kuliahku.
Aku jadi tidak pernah benar-benar menikmati masa kuliah.
Kadang-kadang Jason kesal karena semenjak diriku mulai lebih terbuka, sudah ada beberapa teman laki-lakiku yang mencoba mendekatiku.
Kalau sudah begitu, katanya aku lebih baik jadi pendiam dan tertutup seperti dulu.
Namun aku tahu ia tidak pernah serius dengan ucapannya..
Jason juga cukup puas dengan pekerjaannya. Ia sudah beberapa kali dapat pujian dari atasannya dan menurutnya, sebentar lagi ia bisa naik jabatan.
Kalau sudah mendengarnya bercerita begitu seru, aku jadi takut sendiri kalau-kalau ia tidak akan kembali.
Di sisi lain, aku bangga karena tunanganku bukan laki-laki yang hanya bisa mengandalkan orang tua.
Seperti yang sudah dibilang Rosa dulu, banyak sekali gadis yang ngantri untuk mendapatkan Jason.
Bukannya cemburu, aku malah jadi geli sendiri mendengar cerita-cerita lucu tentang gadis-gadis itu.
Mulai dari yang mengiriminya foto sampai yang mengirimkannya lagu lewat radio tiap weekend.
Hubungan kami berjalan begitu lancar.. begitu sempurna.. Hingga tidak terasa aku sudah menyelesaikan kuliahku.
Semenjak kuliahku selesai, aku tidak melakukan banyak hal selain membantu papa sedikit-sedikit di perusahaannya.
Sebenarnya Jason akan pulang saat wisudaku nanti, ia sudah berjanji.. namun aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengannya karena wisudaku masih dua bulan lagi.
Saat kau merindukan seseorang, dua bulan bisa jadi seperti penantian tanpa batas.
Maka kuberanikan diriku untuk meminta ijin ke Sydney.
"Sudah tidak sabar mau ketemu calon suami yah?" ledek papa waktu aku mengutarakan niatku.
"Ah papa.. kayak nggak pernah pacaran aja.." ucapku manja.
"Papa nggak ada alasan melarangmu. Kamu pesan saja tiketnya.."
"Beneran pa?" ucapku girang.
"Kalau perlu pesan saja untuk dua bulan jadi kamu balik ke Jakarta-nya sama-sama dia." tambah mama lagi.
"Aduh, mama memang mama paling baik sedunia.." aku memeluk mama erat-erat.
"Oh ya, aku mau bkin surprise loh buat Jason dan Rosa jadi mama papa jangan sampe keceplosan yah.." tambahku lagi.
Papa dan mama hanya tertawa melihat sikapku yang kekanak-kanakan itu..
Kupandangi refleksi wajahku di cermin. Aku tersenyum puas melihat penampilanku.
Kusisir rambutku yang sudah tumbuh panjang sekarang.
Aku teringat Jason pernah bilang bahwa aku lebih cantik bila rambutku panjang.
Mungkin itulah alasannya mengapa aku tidak pernah memotong rambutku semenjak aku mendengar kata-katanya itu.
Aku tersenyum membayangkan dirinya melihatku sekarang.
Aku tersenyum membayangkan perjumpaan kami sebentar lagi, melihat ekspresi terkejut di wajah tampannya..
Kubayangkan juga hari-hari yang akan aku lewati dengannya, menyusuri tempat-tempat indah yang selama ini selalu ia ceritakan padaku..
Kurapihkan diriku lagi sebelum keluar dari kamar kecil itu.
Kulangkahkan kakiku dengan mantap.
"Sydney, say hi to me.." pekikku girang dalam hati.
Aku memandang bangunan tinggi yang menjulang dihadapanku.
Taksi yang mengantarku sudah berlalu dari tadi.
Kulihat lagi kertas bertuliskan alamat apartment Jason dan Rosa.
Memang benar ini yang aku cari.
Ketika aku sudah hendak menekan interkom apartment mereka, kulihat sepasang suami istri berjalan keluar dari pintu utama.
Lalu ide iseng muncul di benakku. Sebelum pintu itu tertutup, aku buru-buru menyelinap masuk..
"Kalau aku langsung muncul di depan pintunya tentu lebih mengejutkan lagi.." pikirku nakal. Kutekan tombol lift yang sesaat kemudian mengantarku ke lantai teratas dari bangunan tersebut.
Sewaktu aku mengetuk pintu itu, aku merasa jantungku yang justru terketuk.
Lama tak terdengar jawaban.
"Mungkin mereka masih tidur.."
aku melirik jam tanganku yang menunjukkan jam sembilan pagi lewat sedikit.
Hari ini hari minggu jadi wajar saja kalau mereka bangun agak siang.
Kucoba lagi mengetuk pintu itu, agak lebih keras kali ini..
Tak lama, Rosa membuka pintu itu, masih dengan pakaian tidur dan rambut yang agak berantakan. Matanya terbelalak ketika melihatku...
"Bianca!!" teriaknya tertahan. Aku tersenyum dan langsung memeluknya.
Lalu kulihat Jason muncul, hanya mengenakan celana boxer pendek.
Aku tersenyum dan hampir memanggilnya ketika aku sadar ia sedang merangkul seorang perempuan yang tidak pernah aku kenal.
Perempuan itu juga hanya mengenakan pakaian tidur seadanya.
Jason masih mengucek-ucek matanya.
"Siapa Sa? Kok bisa masuk sini?" tanyanya pada Rosa.
Sementara yang ditanya tidak berani menoleh ke belakang.
Tersentak, kulepaskan pelukanku.
Jason juga rupanya segera menyadari kehadiranku di situ dan buru-buru melepaskan rangkulannya. Terlambat..
Aku sudah melihatnya.. Belum sempat seseorang mengucapkan sepatah kata pun, aku langsung
berbalik dan berlari pergi, menekan-nekan tombol lift dengan tidak sabar.
"Bianca! Tunggu!" kudengar Jason berlari dan mengejarku.
Ia lalu mencengkeram lenganku keras, membuatku tak mampu berontak.
Aku berbalik menatapnya namun pandanganku kabur, tertutup oleh air mata yang sudah siap
mengalir.
Ia tidak mengucapkan apa-apa. Ia menarikku ke pelukannya dengan paksa.
Aku hanya bisa menangis seraya sesekali memukul bahunya yang bidang itu.
Perempuan itu beranjak mendekati kami. Ia berdiri di belakangku, tepat berhadapan dengan Jason.
"Ini pacarmu?" tanyanya sinis.
"Bukan." Jason menjawab mantap.
"Ia tunanganku.." Sambungnya seraya mempererat pelukannya seolah ingin melindungiku. Tangisku makin menjadi mendengar jawaban Jason itu.
Perempuan itu mendegus marah.
"Kalau begitu, kau dalam masalah besar sekarang.. Bagus, kau rasakanlah akibat dari perbuatanmu sendiri!" bentaknya setengah berteriak.
Lalu aku mendengar suara tamparan.
Aku menolehkan wajahku dan melihat Jason sedang memegang sebelah pipinya.
"Tamparan itu untukku. Dan ini untuk tunanganmu." Ia lalu menampar Jason lagi.
Kulihat mata perempuan itu menyala oleh api amarah namun aku tahu ia juga tengah menahan air mata yang sudah mulai membahasi matanya.
Aku tahu, ia sama sedihnya denganku. Hanya saja, ia sedikit lebih kuat dariku..
Perempuan itu lalu mengalihkan pandangannya kepadaku.
"Kurasa kau pun tahu, jahanam ini tidak pantas untukmu.." ucapnya sebelum berlalu.
Kulihat ia masuk ke dalam lift yang sudah terbuka sambil menenteng pakaian dan tasnya.
Ia sama sekali tidak menoleh lagi ke arah kami..
(...bersambung)
0 Comments:
Post a Comment
<< Home