Cerbung: When Love Is Not Enough (Part VII)
Ada cerita yang menarik perhatian gw...
Dapet dari milis tetangga...
Tapi sayangnya gw ga tau sapa yang nulis..
But for who ever wrote it, it's nice story, I like it...
Mudah2an menyentuh siapa pun yang membacanya =)
Dapet dari milis tetangga...
Tapi sayangnya gw ga tau sapa yang nulis..
But for who ever wrote it, it's nice story, I like it...
Mudah2an menyentuh siapa pun yang membacanya =)
When Love is Not Enough (Part IV)
Sudah lebih dari dua tahun aku menghabiskan kehidupanku di sini.
Aku tidak pernah pulang ke Jakarta, untuk liburan sekalipun. Walaupun sebenarnya sekolahku sudah selesai, berkat rekomendasi dan praktek kerjaku dulu, aku berhasil memperoleh pekerjaan sementara di sini.
Sebentar lagi batas waktunya habis dan aku harus pulang ke Jakarta, mulai membantu usaha papa.
Sejujurnya, aku tidak rela melepaskan apa yang aku miliki di sini.
Aku menikmati pekerjaan dan pergaulan yang aku miliki di sini. Budaya orang-orang di sini membuatku merasa lebih bebas dan tidak tertekan.
Bagaimana Jason sekarang?
Apakah ia masih bekerja di Sydney atau apakah ia sudah pulang dan membantu usaha papanya di Jakarta?
Ah.. ingin rasanya aku bertanya tentang Jason kepada Rosa namun ego ini terlalu besar.
Aku perhatikan lagi detail di undangan Rosa.
Pernikahannya masih tiga bulan lagi.
Pestanya akan diselenggarakan di Jakarta.
Hmm.. itu berarti aku harus pulang agar dapat hadir di pesta itu.
Tiba-tiba aku tersentak.
Bukankah itu berarti aku akan bertemu dengan Jason? Jantungku berdebar-debar sendiri.
Bodohnya diriku..
Tak lama kudengar ada yang membuka pintu depan.
Kuintip sedikit siapa yang datang, ternyata Stanley.
Ia muncul dengan mendekap bungkusan besar penuh belanjaan.
"Kok nggak tiduran? Ngapain bengong di ruang tamu?" tanya Stanley sambil terus berjalan ke arah dapur.
"Pusingnya udah mendingan?" sambungnya lagi sambil membereskan belanjaannya.
Aku berjalan malas-malasan dan duduk di dapur kering seraya menatapnya yang masih sibuk sendiri dengan barang-barangnya.
"Udah lumayan lah.." jawabku sambil menguap.
"Kalau udah mendingan, sini bantuin aku masak.."
"Nggak jadi Stan.. pusingnya kumat lagi ngeliat kamu.." jawabku sambil ngeloyor pergi ke kamar.
Aku hanya tersenyum mendengar Stanley ngomel-ngomel sendiri.
Stanley.
Sahabat baikku.
Kami berkenalan dalam suatu acara yang diadakan oleh komite
anak-anak indonesia di kampus.
Waktu itu ia juga sedang melanjutkan masternya, namun jurusannya berbeda dariku.
Rupanya rumah kami di Jakarta berdekatan, dan dari situ pembicaraan kami mulai berlanjut.
Aku merasa cocok sekali bergaul dengan Stanley.
Aku tidak pernah merasa risih untuk menceritakan apapun padanya walaupun ia laki-laki.
Mungkin karena gayanya yang seperti perempuan membuatku tidak pernah menganggapnya sebagai seorang laki-laki. Walaupun begitu, aku yakin ia juga bukan seorang gay karena ia pernah menceritakan kisah cintanya dulu padaku.
Hanya kepada Stanley aku bisa leluasa menceritakan masa laluku dengan Jason, sesuatu yang tidak pernah diketahui oleh teman-temanku di sini.
Hanya dengan dia aku bebas melakukan apa yang aku mau. Marah.. menangis.. berteriak.. semuanya..
Setiap aku sakit, Stanley-lah yang menjagaku.
Seperti yang ia lakukan sore ini.
Ia tahu aku agak tidak enak badan sehingga harus pulang lebih cepat dari kantor.
Ia langsung berbelanja bahan-bahan untuk memasakkanku makanan, sesuatu yang sangat sering ia lakukan.
Stanley bukan hanya sahabatku, ia juga adalah saudaraku.
Aku sering memanggilnya, 'my sister' karena ia lebih cerewet dari mamaku sekalipun.
Kalau sudah begitu ia pasti pura-pura marah dan mulai bersikap sok seperti gentleman.
Tapi itu tidak pernah bertahan lama.
"Biancaaaaaa.." Kudengar ia berteriak memanggil namaku. Kulihat jam weker disamping tempat tidurku.
Sudah 30 menit berlalu, ia pasti sudah selesai masak.
Stanley adalah koki tercepat dan terhebat yang pernah aku kenal.
Tidak ada yang bisa menyaingi masakannya.
Waktu aku keluar dari kamar, kulihat ia sedang menata piring di meja makan.
Aku segera menghampiri dan membantunya.
"Ini ravioli dengan cheese cream-nya tuan putri.." ucapnya sambil menghidangkan makanan kesukaanku itu.
Seperti biasa, Stanley tidak langsung makan.
Ia selalu menyalakan musik.
Katanya, kalau sambil mendengarkan musik yang romantis, makan apapun akan jadi enak.
Malam ini ia memasang lagu First Love-nya Nikka Costa.
"Stan, malem ini kamu nggak jemput kakakmu?" tanyaku sewaktu ia sudah duduk bersama-samaku di meja makan.
"Tadi dia juga pulang cepet soalnya mesti jemput temennya yang baru datang dari Jakarta."
"Oh ya? Kenalin donkkk. cewek atau cowok?"
"Eh.. ganjennya kumat nih anak. Yang ini cewek, pokoknya jatahku.." balas Stanley tak mau kalah.
"Ambil gih.. Dianya juga belum tentu mau sama kamu.." aku mencibirkan bibirku.
"Udah.. serius nih.. Weekend ini kita disuruh temenin dia jalan-jalan soalnya kakakku ada tugas di luar kota."
"Oke, aku juga free kok.." jawabku senang. "Ngomong-ngomong, siapa namanya? Tau nggak?"
"Sarah." Jawaban Stanley langsung membuat suasana hatiku kacau.
Sarah.. Mungkinkah Sarah yang itu? Aku melirik Stanley.
Ia tampak biasa saja, sibuk mengunyah makanan di mulutnya yang penuh itu sambil sesekali bersenandung.
Weekend yang aku tunggu-tunggu pun tiba.
Aku tidak sabar ingin bertemu dengan yang namanya Sarah. Aku ingin tahu apakah ia adalah Sarah yang selama ini membakar kecemburuan dalam diriku.
Sarah yang selama ini membuatku ingin melupakan Jason selamanya.
Ia muncul di hadapanku.
Tepat seperti yang aku bayangkan, ia begitu cantik..
Jika ia adalah Sarah yang selama ini aku ingin temui, maka tidak salah Jason begitu tergila-gila padanya.
Tubuhnya begitu sempurna, membuatku merasa minder seketika itu juga.
Semua gerak-geriknya begitu sopan dan feminin, mencerminkan wanita yang sesungguhnya..
Jika aku bukan wanita, mungkin aku juga akan jatuh cinta padanya..
Ketika Stanley meninggalkan kami berdua saja, kuberanikan diri untuk memancing-mancingnya menceritakan masa lalunya.
"Kamu berapa lama rencananya di sini?" tanyaku membuka percakapan.
"Sampai semua tempat sudah aku kunjungi.." jawabnya sambil menyibakkan rambut panjangnya yang berwarna kecoklatan ke belakang dan tersenyum manis padaku.
"Kalau kamu? Apa sudah pasti menetap di sini?"
Aku menggelengkan kepalaku.
"Rasanya aku harus kembali ke Jakarta."
"Oh.. udah ada yang nungguin di sana yah?" senyumnya nakal.
Kebetulan.. pikirku.
"Wah.. nggak ada lah.. Emangnya kamu ada yah?"
Air wajahnya berubah sedikit, terlihat agak sedih.
"Tidak ada yang menungguku.." jawabnya.. misterius..
Aku terdiam, otakku berputar keras, mencari pertanyaan lain yang bisa aku ajukan padanya.
"Kenapa kamu ama Stanley nggak pacaran aja? Kalian keliatannya cocok sekali.." ia berbicara lagi.
Aku tertawa.
"Stanley dan aku sudah seperti kakak adik. Kami nggak mungkin pacaran.."
"Atau apakah karna kamu masih mencintai orang lain?" tanyanya, tidak dengan nada yang terlalu serius.
Aku terhenyak.
Tidak kusangka ia akan bertanya hal seperti itu pada perjumpaan pertama kami walaupun aku tahu ia tidak bersungguh-sungguh dengan pertanyaannya.
Ia tersenyum.
"Tidak perlu dijawab. Aku sudah tahu jawabannya.."
Aku menatapnya heran. Ia tidak membalas tatapanku.
"Kalau kamu?" tanyaku memberanikan diri.
"Aku? Semua orang pasti memiliki seseorang yang dicintai.." kini ia menatapku. Tatapan matanya begitu tajam, namun indah..
"Ohh.." jawabku kikuk.
"Ngomong-ngomong, bagaimana kamu bisa kenal dengan kakaknya Stanley?" tanyaku, mencoba mengalihkan pembicaraan.
Mungkin lain kali baru aku coba membahas hal ini lagi.
"Kami berkenalan waktu aku sekolah di Sydney."
Jantungku mulai berdetak cepat.
"Oh ya, kapan kamu lulus?"
"Aku tidak pernah lulus kuliah.. Aku harus menikah." matanya menerawang. Ia lalu tertawa kecil.
"Jangan pikir aku menikah karna sudah hamil duluan yah.."
"Kalau begitu, kenapa kamu menikah?"
"Dijodohkan.."
Tidak salah lagi.. Dia pasti adalah Sarah yang mantan kekasih Jason.
Belum aku sempat bertanya lagi, Stanley sudah muncul. Percakapan kami terputus..
"Kamu yakin?" tanya Stanley sewaktu aku memberitahukannya tentang kesimpulan yang aku dapatkan tentang Sarah.
"Ya abisnya kan aneh kalau bisa ada dua kejadian mirip seperti itu.."
"Tapi dari yang aku dengar, dia masih single kok.. Lihat aja, emangnya dia kelihatan kayak orang udah nikah? masih seksi begitu.." Stanley bersuit.
Aku melemparkan bantalku ke kepalanya..
Kesal dengan sikapnya yang tidak serius.
Ia malah membalas lemparanku dan perang bantalpun dimulai. Belum sampai lima menit..
"Nyerah.. nyerah.." ucap Stanley akhirnya dengan napas terengah-engah.
"Makanya.. diettt!! Kegendutan sih.." aku tertawa lepas.
"Ca.." panggil Stanley serius. "Aku akan tanyakan pada kakakku tentang Sarah."
"Thank you, Stan.. You are the best!" aku memelukku sahabatku itu.
Menurut Tania, kakaknya Stanley, Sarah batal menikah dengan pria yang dijodohkan oleh orang tua mereka.
Alasannya simple saja, pihak pria yang memutuskan perjodohan tersebut.
Selebihnya Tania tidak pernah bertanya banyak, takut hal tersebut akan membuatnya sedih.
Sarah juga agak tertutup. Tania bahkan tidak pernah mendengar nama Jason.
Aku agak sedikit kecewa karena tidak banyak informasi yang bisa diberikan oleh Tania. Namun aku belum menyerah.
Sudah lebih dari dua tahun aku menghabiskan kehidupanku di sini.
Aku tidak pernah pulang ke Jakarta, untuk liburan sekalipun. Walaupun sebenarnya sekolahku sudah selesai, berkat rekomendasi dan praktek kerjaku dulu, aku berhasil memperoleh pekerjaan sementara di sini.
Sebentar lagi batas waktunya habis dan aku harus pulang ke Jakarta, mulai membantu usaha papa.
Sejujurnya, aku tidak rela melepaskan apa yang aku miliki di sini.
Aku menikmati pekerjaan dan pergaulan yang aku miliki di sini. Budaya orang-orang di sini membuatku merasa lebih bebas dan tidak tertekan.
Bagaimana Jason sekarang?
Apakah ia masih bekerja di Sydney atau apakah ia sudah pulang dan membantu usaha papanya di Jakarta?
Ah.. ingin rasanya aku bertanya tentang Jason kepada Rosa namun ego ini terlalu besar.
Aku perhatikan lagi detail di undangan Rosa.
Pernikahannya masih tiga bulan lagi.
Pestanya akan diselenggarakan di Jakarta.
Hmm.. itu berarti aku harus pulang agar dapat hadir di pesta itu.
Tiba-tiba aku tersentak.
Bukankah itu berarti aku akan bertemu dengan Jason? Jantungku berdebar-debar sendiri.
Bodohnya diriku..
Tak lama kudengar ada yang membuka pintu depan.
Kuintip sedikit siapa yang datang, ternyata Stanley.
Ia muncul dengan mendekap bungkusan besar penuh belanjaan.
"Kok nggak tiduran? Ngapain bengong di ruang tamu?" tanya Stanley sambil terus berjalan ke arah dapur.
"Pusingnya udah mendingan?" sambungnya lagi sambil membereskan belanjaannya.
Aku berjalan malas-malasan dan duduk di dapur kering seraya menatapnya yang masih sibuk sendiri dengan barang-barangnya.
"Udah lumayan lah.." jawabku sambil menguap.
"Kalau udah mendingan, sini bantuin aku masak.."
"Nggak jadi Stan.. pusingnya kumat lagi ngeliat kamu.." jawabku sambil ngeloyor pergi ke kamar.
Aku hanya tersenyum mendengar Stanley ngomel-ngomel sendiri.
Stanley.
Sahabat baikku.
Kami berkenalan dalam suatu acara yang diadakan oleh komite
anak-anak indonesia di kampus.
Waktu itu ia juga sedang melanjutkan masternya, namun jurusannya berbeda dariku.
Rupanya rumah kami di Jakarta berdekatan, dan dari situ pembicaraan kami mulai berlanjut.
Aku merasa cocok sekali bergaul dengan Stanley.
Aku tidak pernah merasa risih untuk menceritakan apapun padanya walaupun ia laki-laki.
Mungkin karena gayanya yang seperti perempuan membuatku tidak pernah menganggapnya sebagai seorang laki-laki. Walaupun begitu, aku yakin ia juga bukan seorang gay karena ia pernah menceritakan kisah cintanya dulu padaku.
Hanya kepada Stanley aku bisa leluasa menceritakan masa laluku dengan Jason, sesuatu yang tidak pernah diketahui oleh teman-temanku di sini.
Hanya dengan dia aku bebas melakukan apa yang aku mau. Marah.. menangis.. berteriak.. semuanya..
Setiap aku sakit, Stanley-lah yang menjagaku.
Seperti yang ia lakukan sore ini.
Ia tahu aku agak tidak enak badan sehingga harus pulang lebih cepat dari kantor.
Ia langsung berbelanja bahan-bahan untuk memasakkanku makanan, sesuatu yang sangat sering ia lakukan.
Stanley bukan hanya sahabatku, ia juga adalah saudaraku.
Aku sering memanggilnya, 'my sister' karena ia lebih cerewet dari mamaku sekalipun.
Kalau sudah begitu ia pasti pura-pura marah dan mulai bersikap sok seperti gentleman.
Tapi itu tidak pernah bertahan lama.
"Biancaaaaaa.." Kudengar ia berteriak memanggil namaku. Kulihat jam weker disamping tempat tidurku.
Sudah 30 menit berlalu, ia pasti sudah selesai masak.
Stanley adalah koki tercepat dan terhebat yang pernah aku kenal.
Tidak ada yang bisa menyaingi masakannya.
Waktu aku keluar dari kamar, kulihat ia sedang menata piring di meja makan.
Aku segera menghampiri dan membantunya.
"Ini ravioli dengan cheese cream-nya tuan putri.." ucapnya sambil menghidangkan makanan kesukaanku itu.
Seperti biasa, Stanley tidak langsung makan.
Ia selalu menyalakan musik.
Katanya, kalau sambil mendengarkan musik yang romantis, makan apapun akan jadi enak.
Malam ini ia memasang lagu First Love-nya Nikka Costa.
"Stan, malem ini kamu nggak jemput kakakmu?" tanyaku sewaktu ia sudah duduk bersama-samaku di meja makan.
"Tadi dia juga pulang cepet soalnya mesti jemput temennya yang baru datang dari Jakarta."
"Oh ya? Kenalin donkkk. cewek atau cowok?"
"Eh.. ganjennya kumat nih anak. Yang ini cewek, pokoknya jatahku.." balas Stanley tak mau kalah.
"Ambil gih.. Dianya juga belum tentu mau sama kamu.." aku mencibirkan bibirku.
"Udah.. serius nih.. Weekend ini kita disuruh temenin dia jalan-jalan soalnya kakakku ada tugas di luar kota."
"Oke, aku juga free kok.." jawabku senang. "Ngomong-ngomong, siapa namanya? Tau nggak?"
"Sarah." Jawaban Stanley langsung membuat suasana hatiku kacau.
Sarah.. Mungkinkah Sarah yang itu? Aku melirik Stanley.
Ia tampak biasa saja, sibuk mengunyah makanan di mulutnya yang penuh itu sambil sesekali bersenandung.
Weekend yang aku tunggu-tunggu pun tiba.
Aku tidak sabar ingin bertemu dengan yang namanya Sarah. Aku ingin tahu apakah ia adalah Sarah yang selama ini membakar kecemburuan dalam diriku.
Sarah yang selama ini membuatku ingin melupakan Jason selamanya.
Ia muncul di hadapanku.
Tepat seperti yang aku bayangkan, ia begitu cantik..
Jika ia adalah Sarah yang selama ini aku ingin temui, maka tidak salah Jason begitu tergila-gila padanya.
Tubuhnya begitu sempurna, membuatku merasa minder seketika itu juga.
Semua gerak-geriknya begitu sopan dan feminin, mencerminkan wanita yang sesungguhnya..
Jika aku bukan wanita, mungkin aku juga akan jatuh cinta padanya..
Ketika Stanley meninggalkan kami berdua saja, kuberanikan diri untuk memancing-mancingnya menceritakan masa lalunya.
"Kamu berapa lama rencananya di sini?" tanyaku membuka percakapan.
"Sampai semua tempat sudah aku kunjungi.." jawabnya sambil menyibakkan rambut panjangnya yang berwarna kecoklatan ke belakang dan tersenyum manis padaku.
"Kalau kamu? Apa sudah pasti menetap di sini?"
Aku menggelengkan kepalaku.
"Rasanya aku harus kembali ke Jakarta."
"Oh.. udah ada yang nungguin di sana yah?" senyumnya nakal.
Kebetulan.. pikirku.
"Wah.. nggak ada lah.. Emangnya kamu ada yah?"
Air wajahnya berubah sedikit, terlihat agak sedih.
"Tidak ada yang menungguku.." jawabnya.. misterius..
Aku terdiam, otakku berputar keras, mencari pertanyaan lain yang bisa aku ajukan padanya.
"Kenapa kamu ama Stanley nggak pacaran aja? Kalian keliatannya cocok sekali.." ia berbicara lagi.
Aku tertawa.
"Stanley dan aku sudah seperti kakak adik. Kami nggak mungkin pacaran.."
"Atau apakah karna kamu masih mencintai orang lain?" tanyanya, tidak dengan nada yang terlalu serius.
Aku terhenyak.
Tidak kusangka ia akan bertanya hal seperti itu pada perjumpaan pertama kami walaupun aku tahu ia tidak bersungguh-sungguh dengan pertanyaannya.
Ia tersenyum.
"Tidak perlu dijawab. Aku sudah tahu jawabannya.."
Aku menatapnya heran. Ia tidak membalas tatapanku.
"Kalau kamu?" tanyaku memberanikan diri.
"Aku? Semua orang pasti memiliki seseorang yang dicintai.." kini ia menatapku. Tatapan matanya begitu tajam, namun indah..
"Ohh.." jawabku kikuk.
"Ngomong-ngomong, bagaimana kamu bisa kenal dengan kakaknya Stanley?" tanyaku, mencoba mengalihkan pembicaraan.
Mungkin lain kali baru aku coba membahas hal ini lagi.
"Kami berkenalan waktu aku sekolah di Sydney."
Jantungku mulai berdetak cepat.
"Oh ya, kapan kamu lulus?"
"Aku tidak pernah lulus kuliah.. Aku harus menikah." matanya menerawang. Ia lalu tertawa kecil.
"Jangan pikir aku menikah karna sudah hamil duluan yah.."
"Kalau begitu, kenapa kamu menikah?"
"Dijodohkan.."
Tidak salah lagi.. Dia pasti adalah Sarah yang mantan kekasih Jason.
Belum aku sempat bertanya lagi, Stanley sudah muncul. Percakapan kami terputus..
"Kamu yakin?" tanya Stanley sewaktu aku memberitahukannya tentang kesimpulan yang aku dapatkan tentang Sarah.
"Ya abisnya kan aneh kalau bisa ada dua kejadian mirip seperti itu.."
"Tapi dari yang aku dengar, dia masih single kok.. Lihat aja, emangnya dia kelihatan kayak orang udah nikah? masih seksi begitu.." Stanley bersuit.
Aku melemparkan bantalku ke kepalanya..
Kesal dengan sikapnya yang tidak serius.
Ia malah membalas lemparanku dan perang bantalpun dimulai. Belum sampai lima menit..
"Nyerah.. nyerah.." ucap Stanley akhirnya dengan napas terengah-engah.
"Makanya.. diettt!! Kegendutan sih.." aku tertawa lepas.
"Ca.." panggil Stanley serius. "Aku akan tanyakan pada kakakku tentang Sarah."
"Thank you, Stan.. You are the best!" aku memelukku sahabatku itu.
Menurut Tania, kakaknya Stanley, Sarah batal menikah dengan pria yang dijodohkan oleh orang tua mereka.
Alasannya simple saja, pihak pria yang memutuskan perjodohan tersebut.
Selebihnya Tania tidak pernah bertanya banyak, takut hal tersebut akan membuatnya sedih.
Sarah juga agak tertutup. Tania bahkan tidak pernah mendengar nama Jason.
Aku agak sedikit kecewa karena tidak banyak informasi yang bisa diberikan oleh Tania. Namun aku belum menyerah.
(...bersambung...)
0 Comments:
Post a Comment
<< Home